Sunday, July 19, 2026
home_banner_first
KESEHATAN

Pakar Sebut Virus Nipah Pernah Ditemukan pada Kelelawar di Indonesia

Mistar.idJumat, 30 Januari 2026 pukul 10.03 WIB
pakar_sebut_virus_nipah_pernah_ditemukan_pada_kelelawar_di_indonesia

Ilustrasi. (Foto: Istimewa/Mistar)

news_banner

Jakarta, MISTAR.ID

Virus Nipah yang belakangan menjadi sorotan akibat munculnya kasus di India dipastikan belum pernah ditemukan menginfeksi manusia di Indonesia. Namun, virus tersebut sebelumnya telah terdeteksi pada hewan, khususnya kelelawar.

Anggota Unit Kerja Koordinasi Infeksi Penyakit Tropik Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) Prof dr Dominicus Husada, SpA, Subsp IPT mengatakan virus Nipah memang memiliki inang alami berupa kelelawar buah dari famili Pteropodidae, yang juga terdapat di Indonesia.

“Penular utama sekali lagi adalah kelelawar buah sebagai inang alami. Negara kita termasuk yang memiliki kelelawar ini dan virusnya sudah ditemukan pada kelelawar, tetapi pada manusia memang belum,” ujar Prof Husada dalam konferensi pers, Kamis (29/1/2026), dilansir dari Detikhealth.

Ia menjelaskan, pada 2008 pernah dilakukan penelitian menggunakan uji serologi ELISA terhadap kelelawar spesies Pteropus vampyrus. Hasilnya menunjukkan antibodi virus Nipah dengan prevalensi sekitar 18 hingga 30 persen.

Penelitian tersebut dilakukan di sejumlah wilayah, antara lain Medan, Jawa Barat, Jawa Tengah, Jawa Timur, dan Kalimantan. Menurut Prof Husada, antibodi virus Nipah ditemukan pada sekitar sepertiga dari total kelelawar yang diteliti.

Sementara itu, pemeriksaan pada hewan babi yang dilakukan di rumah potong hewan di Jakarta, Medan, Riau, serta sejumlah peternakan di Sumatera Utara, Sumatera Barat, dan Sulawesi Utara tidak menemukan adanya antibodi virus Nipah.

Deteksi virus secara langsung juga pernah dilaporkan dalam penelitian yang dipublikasikan pada 2017. Dalam studi tersebut, virus Nipah terdeteksi pada 50 sampel swab saliva kelelawar Pteropus vampyrus di Sumatera Utara melalui uji RT-PCR.

“Pada penelitian PCR itu ditemukan virusnya langsung, bukan hanya antibodinya. Jadi yang ditemukan di Indonesia memang berasal dari kelelawar,” katanya.

Meski demikian, Prof Husada mengimbau masyarakat agar tidak panik. Ia menegaskan bahwa hingga kini Kementerian Kesehatan belum menemukan kasus virus Nipah pada manusia di Indonesia.

Ia menambahkan, penerapan perilaku hidup bersih dan sehat (PHBS) serta upaya pencegahan yang baik dapat meminimalkan risiko penularan virus tersebut.

Virus Nipah diketahui memiliki tingkat kematian yang tinggi hingga 75 persen dan hingga kini belum tersedia vaksin pencegahannya.

Penularan virus Nipah dapat terjadi melalui kontak langsung dengan hewan terinfeksi, paparan cairan tubuh seperti urine dan air liur, konsumsi daging mentah atau buah yang terkontaminasi, serta kontak dengan manusia yang terinfeksi melalui droplet, urine, atau darah. (hm25)



BERITA TERPOPULER

BERITA PILIHAN