Friday, June 5, 2026
home_banner_first
KESEHATAN

Belum Ada Vaksin, Virus Nipah Dinilai Sangat Mematikan hingga 75 Persen

Mistar.idKamis, 29 Januari 2026 08.12
AN
belum_ada_vaksin_virus_nipah_dinilai_sangat_mematikan_hingga_75_persen

Ilustrasi virus Nipah. (Foto: Istimewa)

news_banner

Jakarta, MISTAR.ID

Ahli epidemiologi Universitas Griffith Australia, Dicky Budiman, mengungkapkan hingga saat ini belum tersedia vaksin maupun obat spesifik untuk mencegah dan mengobati infeksi virus Nipah, virus zoonosis mematikan yang tingkat fatalitasnya dapat mencapai 75 persen.

Pernyataan tersebut disampaikan menyusul meningkatnya kewaspadaan sejumlah negara Asia terhadap penyebaran virus Nipah, terutama setelah kasus kembali muncul di India.

Beberapa negara seperti Taiwan dan Thailand telah memperketat skrining kesehatan di pintu kedatangan internasional. Sementara itu, Menteri Kesehatan Indonesia menyatakan kesiapan pemerintah dalam menyiapkan reagen PCR untuk mendeteksi virus Nipah di Tanah Air.

Virus Nipah diketahui menular dari hewan ke manusia, terutama melalui konsumsi buah atau makanan yang terkontaminasi air liur atau urine kelelawar buah yang merupakan reservoir alami virus tersebut. Selain itu, penularan antar-manusia juga dapat terjadi melalui kontak erat dengan penderita.

Dicky menjelaskan, hingga kini penanganan pasien yang terinfeksi virus Nipah hanya bersifat perawatan suportif untuk mengendalikan gejala yang muncul. Pada kasus berat, pasien bahkan memerlukan perawatan intensif di unit perawatan intensif (ICU).

“Penatalaksanaannya masih berupa supportive care atau terapi kontrol gejala. Saat ini memang sedang diriset kandidat vaksin dan terapi, tapi belum ada yang mencapai level yang menjanjikan,” ujar Dicky yang dikutip dari Detikcom, Kamis (29/1/2026).

Gejala infeksi virus Nipah pada manusia, lanjut Dicky, dapat bervariasi. Pada fase awal, penderita biasanya mengalami demam, sakit kepala, dan gejala mirip flu. Seiring perkembangan penyakit, dapat muncul nyeri otot, muntah, serta sakit tenggorokan.

“Pada fase lanjut bisa terjadi gangguan pernapasan seperti pneumonia, hingga gangguan neurologis berupa radang otak atau ensefalitis, yang menyebabkan kebingungan, kejang, bahkan koma,” ujarnya.

Menurut Dicky, angka kematian akibat virus Nipah sangat tinggi. Case fatality rate tercatat berkisar antara 40 hingga 75 persen, terutama pada kasus berat yang tidak ditangani secara cepat.

“Kematian sering terjadi hanya dalam beberapa hari setelah onset pada kasus berat,” katanya.

Meski tidak bersifat eksplosif seperti wabah besar, Dicky menilai ancaman virus Nipah tetap serius karena bersifat stabil dan berpotensi muncul setiap tahun. Kondisi tersebut justru dinilai berbahaya karena memungkinkan virus terus beradaptasi dan meningkatkan kemampuan penularan, khususnya antar-manusia.

“Semakin hari virus ini bisa mengalami peningkatan kemampuan, terutama dalam konteks penularan antar-manusia,” tuturnya. (hm25)

BERITA TERPOPULER

BERITA PILIHAN