Sunday, July 19, 2026
home_banner_first
KESEHATAN

India Laporkan Lima Kasus Virus Nipah di Benggala Barat, Indonesia Tingkatkan Kewaspadaan

Mistar.idSelasa, 27 Januari 2026 pukul 19.36 WIB
india_laporkan_lima_kasus_virus_nipah_di_benggala_barat_indonesia_tingkatkan_kewaspadaan

Ilustrasi Virus Nipah (Foto: Istimewa/Mistar)

news_banner

Pematangsiantar, MISTAR.ID

Virus Nipah kembali menjadi sorotan setelah India melaporkan lima kasus infeksi di wilayah Barasat, Benggala Barat, hingga 25 Januari 2026. Virus ini memiliki tingkat kematian tinggi dan belum tersedia vaksin atau pengobatan khusus, sehingga memicu kewaspadaan regional, termasuk di Indonesia.

Tenaga Kesehatan Menjadi Korban Awal

Dua kasus pertama menimpa tenaga kesehatan di rumah sakit swasta, seorang perawat laki-laki dan perempuan. Investigasi awal menunjukkan keduanya diduga tertular saat menangani pasien dengan gangguan pernapasan berat, yang meninggal sebelum sempat diperiksa untuk virus Nipah. Beberapa hari kemudian, tiga kasus tambahan terkonfirmasi di wilayah yang sama.

Langkah Darurat Otoritas India

Otoritas kesehatan India langsung menerapkan langkah tanggap darurat:

  1. Pelacakan kontak secara ketat
  2. Karantina bagi orang berisiko tinggi
  3. Pengawasan epidemiologis di wilayah terdampak

Hingga saat ini, sekitar 180 orang telah diperiksa, sementara kontak berisiko tinggi menjalani karantina untuk mencegah penyebaran lebih luas.

Respons Asia Tenggara

Negara-negara tetangga, termasuk Thailand dan Nepal, meningkatkan kewaspadaan. Thailand menerapkan skrining pelancong dari India, terutama Benggala Barat, dan meminta penumpang dengan gejala seperti demam, sakit kepala, batuk, sesak napas, hingga kebingungan segera mencari pertolongan medis.

Nepal juga memperketat pengawasan untuk mencegah masuknya virus Nipah lintas negara, mengingat virus ini termasuk pathogen prioritas WHO karena potensi penularan cepat dan fatalitas tinggi.

Virus Nipah dan Ancaman Kesehatan

Menurut WHO, infeksi virus Nipah dapat menyebabkan gangguan pernapasan akut hingga ensefalitis, dengan tingkat kematian mencapai 40–75 persen pada wabah sebelumnya. Penularan bisa terjadi melalui kontak langsung dengan hewan atau manusia yang terinfeksi, terutama melalui droplet, urine, atau darah. Masa inkubasi berkisar 4–14 hari, dengan gejala awal meliputi demam, sakit kepala, nyeri otot, muntah, dan sakit tenggorokan.

Indonesia Tingkatkan Kewaspadaan

Presiden Prabowo Subianto, melalui Kementerian Kesehatan, telah mengeluarkan peringatan dini sejak 13 Januari 2026 melalui laman resmi infeksiemerging.kemkes.go.id. Masyarakat diimbau untuk:

  1. Tidak mengonsumsi buah dengan bekas gigitan kelelawar
  2. Mencuci dan mengupas buah sebelum dikonsumsi
  3. Menerapkan perilaku hidup bersih saat bepergian ke India atau negara terdampak
  4. Memeriksakan diri jika mengalami gejala virus Nipah dalam 14 hari setelah kembali

Ahli Tekankan Pencegahan

Dewan Penasihat Ikatan Dokter Indonesia (IDI), Daeng M. Faqih, menekankan pentingnya pengawasan di pintu masuk Indonesia untuk pelaku perjalanan dari negara terdampak.

“Pintu masuk sangat krusial untuk menapis orang-orang yang dicurigai terinfeksi, terutama yang datang dari wilayah wabah aktif atau transit melalui India. Lebih baik mencegah daripada mengobati,” ujar Faqih.

Ia juga mengingatkan masyarakat untuk memperhatikan konsumsi makanan dan kontak dengan hewan, seperti mencuci buah dari bekas gigitan kelelawar dan memasak daging hingga matang sempurna, termasuk daging babi.



BERITA TERPOPULER

BERITA PILIHAN