Friday, June 5, 2026
home_banner_first
KESEHATAN

Indonesia Resmi Akhiri Status KLB Polio Tipe 2, WHO Nyatakan Ditutup

Mistar.idJumat, 21 November 2025 15.00
AN
indonesia_resmi_akhiri_status_klb_polio_tipe_2_who_nyatakan_ditutup_

Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin. (Foto: Istimewa)

news_banner

Jakarta, MISTAR.ID

Indonesia resmi mengakhiri status Kejadian Luar Biasa (KLB) polio tipe 2 setelah hampir tiga tahun penanganan intensif. Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) pada 19 November 2025 menyatakan KLB ditutup, menyusul tidak ditemukannya kembali virus polio pada anak maupun lingkungan sejak Juni 2024.

Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin mengatakan pencapaian ini diraih berkat pelaksanaan imunisasi tambahan dengan hampir 60 juta dosis vaksin polio yang diberikan selama masa respons KLB.

“Kita berhasil menghentikan penyebaran polio di Indonesia berkat dedikasi tenaga kesehatan, komitmen orang tua dan masyarakat agar anak-anak diimunisasi, serta dukungan mitra. Namun kita tidak boleh berpuas diri. Risiko polio masih ada bila cakupan imunisasi menurun,” ujarnya di Jakarta, Jumat (21/11/2025) dikutip dari Antara.

WHO menyambut pencapaian tersebut sebagai langkah penting menuju eliminasi polio global. Direktur Regional WHO untuk Pasifik Barat, Dr Saia Ma'u Piukala, menyebut keberhasilan Ind

onesia memperkuat seluruh wilayah Pasifik Barat dalam mempertahankan status bebas polio yang telah dicapai 25 tahun lalu.

“Suatu hari nanti polio hanya tinggal sejarah. Sampai saat itu tiba, kita harus melanjutkan imunisasi,” katanya.

KLB polio tipe 2 pertama kali terdeteksi pada Oktober 2022 dengan kasus awal di Aceh. Dalam dua tahun berikutnya, kasus juga ditemukan di Banten, Jawa Barat, Jawa Tengah, Jawa Timur, Maluku Utara, Papua Tengah, Papua Pegunungan, dan Papua Selatan. Kasus terakhir varian virus polio cVDPV2 dikonfirmasi pada 27 Juni 2024 di Papua Selatan.

Untuk menghentikan penularan, pemerintah melaksanakan dua putaran imunisasi tambahan menggunakan vaksin novel OPV-2 (nOPV2) sejak akhir 2022 hingga triwulan ketiga 2024. Cakupan imunisasi rutin turut meningkat, dengan anak penerima dosis kedua vaksin polio inaktif (IPV) naik dari 63 persen pada 2023 menjadi 73 persen pada 2024.

Langkah percepatan dilakukan melalui introduksi vaksin heksavalen-menggabungkan DPT-HB-Hib dan IPV-untuk memberikan perlindungan terhadap enam penyakit dalam satu suntikan. Program dimulai Oktober 2025 di DIY, NTB, Bali, serta enam provinsi di Tanah Papua, sebelum diperluas secara nasional pada tahun mendatang.

Indonesia juga mencatat peningkatan signifikan dalam surveilans Acute Flaccid Paralysis (AFP) melalui deteksi kasus lebih sensitif dan kualitas spesimen yang lebih baik. Penilaian independen Outbreak Response Assessment (OBRA) pada 2023, 2024, dan 2025 menyimpulkan respons KLB dilakukan sesuai standar global dan berhasil mencegah kasus baru.

Pencapaian ini terwujud melalui kolaborasi pemerintah bersama WHO, UNICEF, UNDP, Clinton Health Access Initiative (CHAI), dan Rotary International. Perwakilan UNICEF Indonesia, Maniza Zaman, menegaskan pentingnya menjaga momentum.

“Kita harus memastikan setiap anak mendapatkan imunisasi yang mereka butuhkan untuk tumbuh sehat dan bebas dari polio,” ujarnya. (hm25)

BERITA TERPOPULER

BERITA PILIHAN