Monday, July 20, 2026
home_banner_first
KESEHATAN

IDAI Pusat Keluarkan SE Kewaspadaan dan Tindakan Pencegahan Campak, Apa Saja?

Mistar.idSenin, 9 Maret 2026 pukul 12.04 WIB
idai_pusat_keluarkan_se_kewaspadaan_dan_tindakan_pencegahan_campak_apa_saja

Ilustrasi penanganan kasus campak oleh dokter anak. (Foto: GeminiAI/Mistar)

news_banner

Medan, MISTAR.ID

Pengurus Pusat Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) mengeluarkan surat edaran bernomor 04/PP IDAI/SR/III/2026 mengenai kewaspadaan dan tindakan pencegahan penyakit campak di Indonesia.

Ketua Umum Pengurus Pusat IDAI, dr Piprim Basarah Yanuarso, Sp.A(K), memberikan saran penguatan tata laksana campak yang bersifat suportif dan simptomatik, mengingat belum adanya antivirus spesifik untuk penyakit tersebut.

“Tata laksana suportif meliputi istirahat cukup, nutrisi dan cairan yang memadai, isolasi untuk mencegah penularan, serta pemberian vitamin A sesuai rekomendasi WHO untuk mengurangi mortalitas dan komplikasi,” ujarnya melalui keterangan tertulis kepada Mistar, Senin (9/3/2026).

Lebih lanjut, Piprim menjelaskan dosis vitamin A yang dapat diberikan, yakni usia kurang dari 6 bulan sebanyak 50.000 IU per oral, usia 6 bulan hingga 1 tahun sebanyak 100.000 IU per oral, dan usia di atas 1 tahun sebanyak 200.000 IU per oral.

“Khusus pada anak dengan gizi buruk dan/atau komplikasi mata diberikan tambahan dosis dua minggu berikutnya. Selain itu, lakukan isolasi di rumah selama empat hari sebelum hingga empat hari sesudah ruam muncul dan hindari kontak dengan individu rentan seperti bayi, ibu hamil, serta individu imunokompromais,” ucapnya.

Sedangkan penanganan simptomatik, kata Piprim, dapat dilakukan dengan pemberian antipiretik seperti paracetamol 10-15 mg per dosis setiap 4-6 jam bila demam, obat batuk bila diperlukan, memastikan kulit tetap bersih dan kering, serta memantau tanda infeksi sekunder seperti selulitis atau infeksi jaringan lunak lainnya.

Selanjutnya untuk perawatan mata, pada kasus konjungtivitis ringan dengan cairan bening dan encer cukup diberikan tetes mata normal saline. Namun jika mata mengeluarkan sekret keruh atau berwarna, maka perlu diobati sebagai superinfeksi bakteri dengan tetes mata atau salep antibiotik selama 7-10 hari.

“Bersihkan mata dengan hati-hati menggunakan kasa steril yang dicelupkan ke dalam air bersih yang sudah matang. Berikan antibiotik bila terdapat infeksi sekunder seperti pneumonia atau otitis media, maupun pada infeksi berat seperti sepsis atau syok sepsis,” tuturnya. (hm25)




BERITA TERPOPULER

BERITA PILIHAN