Dampak Makan Pedas Saat Berbuka Puasa

Makan Pedas. (Foto: Freepik/Mistar)
Jakarta, MISTAR.ID
Masyarakat Indonesia dikenal dekat dengan makanan bercita rasa pedas. Sambal hampir selalu hadir di meja makan, mulai dari sambal terasi, sambal bawang, hingga sambal ijo. Bagi sebagian orang, makan terasa kurang lengkap jika tidak disertai sensasi pedas di lidah.
Kebiasaan tersebut kerap terbawa hingga saat berbuka puasa. Setelah menahan lapar seharian, tidak sedikit orang yang langsung memilih hidangan pedas agar makanan terasa lebih nikmat. Gorengan yang disantap bersama cabai rawit atau lauk dengan sambal pun sering menjadi pilihan favorit.
Padahal, perut yang kosong sejak pagi sebenarnya berada dalam kondisi cukup sensitif. Makanan pedas dapat memicu reaksi lambung yang lebih kuat. Cabai sebagai sumber rasa pedas termasuk bahan makanan yang dapat menimbulkan respons tersebut.
Sebuah penelitian yang dimuat dalam jurnal Critical Reviews in Food Science and Nutrition (2016), Selasa (10/3/2026), menyebutkan cabai mengandung senyawa aktif bernama capsaicin. Zat ini mampu merangsang reseptor saraf yang disebut TRPV1 receptor, yang tidak hanya terdapat di lidah, tetapi juga pada saluran pencernaan.
Aktivasi reseptor tersebut dapat memicu sensasi panas sekaligus meningkatkan aktivitas sistem pencernaan.
Saat berpuasa, lambung sebenarnya tidak sepenuhnya berhenti bekerja. Organ ini tetap menghasilkan asam lambung dalam jumlah tertentu. Karena perut kosong selama berjam-jam, lapisan lambung menjadi lebih sensitif terhadap makanan yang masuk.
Makanan pertama yang dikonsumsi saat berbuka akan langsung merangsang lambung untuk kembali aktif mencerna. Hal ini merupakan respons alami tubuh setelah jeda makan yang cukup lama.
Rasa pedas dari cabai dapat memperkuat rangsangan tersebut. Penelitian dalam jurnal Neurochemical Research tahun 2023 menjelaskan bahwa capsaicin mampu memicu pelepasan zat kimia tertentu yang berkaitan dengan peningkatan sekresi asam lambung serta sensasi terbakar pada saluran pencernaan.
Kondisi ini membuat rasa pedas sering terasa lebih kuat ketika dimakan saat perut kosong dibandingkan setelah perut terisi makanan.
Perlu diketahui, sensasi pedas sebenarnya bukan rasa seperti manis atau asin. Sensasi tersebut muncul karena saraf tubuh menerima sinyal panas dari capsaicin.
Reseptor saraf ini tidak hanya berada di lidah, tetapi juga di lambung dan usus. Ketika reseptor tersebut teraktivasi, saluran pencernaan dapat bereaksi lebih aktif.
Penelitian lain yang dipublikasikan dalam jurnal Food Science and Human Wellness pada 2021 menunjukkan bahwa capsaicin dapat meningkatkan sensitivitas saluran cerna dan memicu rasa tidak nyaman. Akibatnya, sebagian orang lebih mudah mengalami keluhan seperti perut perih, sensasi panas di lambung, atau mulas setelah mengonsumsi makanan pedas.
Selain itu, pergerakan usus juga dapat berlangsung lebih cepat. Kondisi ini sering membuat seseorang merasa ingin buang air besar tidak lama setelah makan makanan pedas. Keluhan semacam ini biasanya lebih sering dialami oleh orang yang memiliki riwayat gangguan lambung, seperti Dispepsia atau Gastroesophageal Reflux Disease (GERD).
Setelah berpuasa seharian, tubuh sebenarnya membutuhkan waktu untuk menyesuaikan diri kembali. Sistem pencernaan akan bekerja lebih nyaman jika makanan masuk secara bertahap, bukan langsung dalam jumlah banyak atau dengan rasa yang terlalu kuat.
Air putih, kurma, atau camilan ringan bisa menjadi pilihan awal saat berbuka. Makanan sederhana memberi kesempatan bagi lambung untuk mulai bekerja kembali secara perlahan sebelum menerima makanan yang lebih berat.
Memberi jeda beberapa menit setelah minum atau makan ringan juga dapat membantu lambung beradaptasi. Ketika perut sudah mulai terisi, produksi asam lambung dan enzim pencernaan akan meningkat sehingga makanan berikutnya dapat dicerna dengan lebih baik.
Karena itu, makanan pedas sebaiknya dikonsumsi setelah tahap awal berbuka. Cara ini dapat mengurangi rangsangan langsung pada dinding lambung yang masih kosong. Dengan begitu, sensasi pedas tetap dapat dinikmati tanpa menimbulkan rasa perih, mulas, atau ketidaknyamanan pada perut setelah berbuka puasa. (hm20)






















