Monday, July 20, 2026
home_banner_first
KESEHATAN

Benarkan Mi Instan Sulit Dicerna di Tubuh?

Mistar.idJumat, 19 Desember 2025 pukul 06.00 WIB
benarkan_mi_instan_sulit_dicerna_di_tubuh

Mi Instan. (Foto: Shutterstock/Mistar)

news_banner

Jakarta, MISTAR.ID

Narasi yang menyebut mi instan sulit dicerna tubuh belakangan ramai beredar di berbagai platform media sosial. Ada klaim yang menyatakan mi instan membutuhkan waktu satu hingga dua hari untuk tercerna sempurna, bahkan ada pula yang menyebut bisa bertahan hingga tujuh hari di dalam tubuh.

Isu tersebut memicu kekhawatiran publik, terutama soal dampaknya terhadap kesehatan saluran cerna. Namun, dari mana sebenarnya anggapan tersebut berasal?

Anggapan bahwa mi instan bertahan lama di tubuh kerap dikaitkan dengan sebuah eksperimen yang dilakukan sekitar 2011 oleh Dr. Braden Kuo, dokter spesialis gastroenterologi di Massachusetts General Hospital. Dalam penelitian itu, Dr. Kuo menggunakan teknologi kapsul endoskopi untuk melihat proses pencernaan setelah mengonsumsi mi instan dan mi buatan tangan.

Hasil pengamatan menunjukkan bahwa kedua jenis mi tersebut pada dasarnya telah mengalami proses pencernaan dalam hitungan jam. Namun, pada rekaman, mi instan tampak lebih utuh dibandingkan mi segar.

Temuan ini kemudian disalahpahami oleh banyak pihak sebagai bukti bahwa mi instan tidak tercerna atau menetap lama di dalam tubuh. Padahal, perbedaan kondisi konsumsi serta keterbatasan kapsul endoskopi membuat klaim mi instan dicerna hingga berhari-hari menjadi interpretasi yang keliru.

Lalu, sebenarnya berapa lama tubuh mencerna mi instan? Untuk memahaminya, perlu melihat cara kerja sistem pencernaan manusia secara keseluruhan.

Cara Kerja Sistem Pencernaan

Proses pencernaan berlangsung bertahap dan dimulai sejak makanan masuk ke mulut. Saat mi instan dikunyah, ia bercampur dengan air liur yang mengandung enzim amilase (ptialin) yang mulai memecah karbohidrat kompleks menjadi bentuk lebih sederhana. Dari sini, makanan berubah menjadi bolus yang kemudian ditelan menuju lambung.

Di lambung, bolus bercampur dengan asam klorida (HCl) dan enzim pepsin, lalu berubah menjadi cairan kental yang disebut kimus. Selanjutnya, kimus bergerak ke usus halus, tempat sebagian besar pencernaan kimia dan penyerapan nutrisi terjadi.

Di usus halus, enzim pankreas seperti amilase, lipase, dan protease, serta empedu dari hati, bekerja memecah karbohidrat, lemak, dan protein agar dapat diserap tubuh. Tahapan ini umumnya berlangsung dalam hitungan jam.

Sisa makanan yang tidak tercerna kemudian masuk ke usus besar. Di bagian ini, air diserap kembali dan sisa makanan dipadatkan dengan bantuan bakteri usus sebelum akhirnya dikeluarkan sebagai feses. Proses di usus besar inilah yang sering disalahartikan sebagai lamanya pencernaan.

Secara keseluruhan, waktu transit makanan sejak ditelan hingga sisa pencernaan keluar dari tubuh berkisar antara 10 hingga 73 jam, atau sekitar 1–3 hari. Rentang ini dijelaskan dalam publikasi ilmiah di Journal of Neurogastroenterology mengenai waktu transit makanan di saluran cerna.

Durasi tersebut dapat berbeda-beda, tergantung jenis makanan, kandungan serat, asupan cairan, aktivitas fisik, serta kondisi kesehatan pencernaan masing-masing individu.

Pengaruh Komposisi Makanan

Secara ilmiah, komposisi makanan sangat memengaruhi kecepatan pencernaan. Makanan tinggi serat, seperti sayur, buah, dan biji-bijian, cenderung mempercepat transit usus dan membantu kelancaran buang air besar. Sebaliknya, makanan tinggi lemak dan rendah serat dapat memperlambat pengosongan lambung serta proses pencernaan secara keseluruhan.

Dalam sistem klasifikasi NOVA, mi instan termasuk ultra-processed food (UPF), yaitu makanan yang melalui banyak tahap pengolahan dan mengandung berbagai bahan tambahan seperti perisa buatan, penguat rasa, pengawet, serta pewarna. Produk ini dirancang praktis dan tahan lama, tetapi umumnya rendah serat dan mikronutrien alami.

Karakteristik tersebut membuat mi instan sering dikaitkan dengan rasa begah atau perut terasa penuh setelah dikonsumsi. Namun, secara medis, mi instan tetap dicerna tubuh dalam hitungan jam. Rasa tidak nyaman di perut lebih berkaitan dengan kandungan lemak yang dapat memperlambat pengosongan lambung.

Efek serupa juga kerap muncul setelah mengonsumsi makanan tinggi lemak lainnya, seperti gorengan, makanan bersantan, atau fast food, terutama jika dikonsumsi dalam porsi besar.

Pada mi instan, lemak tidak hanya berasal dari proses penggorengan mi, tetapi juga dari minyak dalam bumbu. Meski demikian, jumlah lemak dalam satu porsi mi instan umumnya sebanding dengan porsi makanan cepat saji lainnya. Artinya, rasa begah bukan karena mi instan “menempel” di tubuh, melainkan akibat kombinasi lemak, rendahnya serat, dan pola konsumsi.

Aman atau Tidak bagi Pencernaan?

Berbagai studi menunjukkan bahwa konsumsi UPF secara berlebihan berkaitan dengan peningkatan risiko gangguan pencernaan, obesitas, diabetes tipe 2, hingga penyakit kardiovaskular. Namun, risiko tersebut lebih dipengaruhi oleh kebiasaan konsumsi jangka panjang, bukan dari makan mi instan sesekali.

Dengan demikian, mi instan tetap aman dikonsumsi oleh orang sehat selama dilakukan secara bijak. Menambahkan sayuran dan sumber protein, mengurangi penggunaan bumbu instan, mencukupi asupan air, serta membatasi frekuensi konsumsi dapat membantu menjaga kesehatan pencernaan. (hm20)



BERITA TERPOPULER

BERITA PILIHAN