Alasan Istilah PCOS Berubah Menjadi PMOS

PCOS danPMOS. (Foto: Istimewa)
Jakarta, MISTAR.ID
Istilah Polycystic Ovary Syndrome (PCOS) yang selama ini dikenal luas kini mulai bergeser menjadi Polyendokrin Metabolic Ovarian Syndrome (PMOS). Pergantian nama tersebut dilakukan karena kondisi ini dinilai tidak hanya berkaitan dengan gangguan pada ovarium atau indung telur saja.
Spesialis Obstetri dan Ginekologi Subspesialis Fertilitas Endokrinologi Reproduksi dari Brawijaya Hospital Antasari, M Luky Satria Syahbana Marwali, menjelaskan istilah PCOS selama ini kerap membuat masyarakat mengira penyakit tersebut hanya menyerang ovarium.
“Sebetulnya itu nggak hanya terbatas di ovarium, jadi dia polyendokrin,” kata dr Luky, dilansir dari detikcom, Sabtu (30/5/2026).
Menurut dia, istilah PMOS dinilai lebih menggambarkan kondisi pasien secara menyeluruh. Kata “polyendokrin” merujuk pada gangguan hormonal yang melibatkan banyak organ, termasuk otak, ginjal, dan ovarium.
Sementara istilah “metabolic” berkaitan dengan gangguan metabolisme seperti resistensi insulin, sedangkan “ovarian” tetap mengacu pada masalah yang terjadi di indung telur.
“Jadi PMOS, Polyendokrin Metabolic Ovarian Syndrome lebih menggambarkan penyakitnya memang penyakit yang lebih luas dari PCOS,” ujar dr Luky.
Ia menambahkan, perubahan istilah tersebut bertujuan memberi pemahaman bahwa kondisi ini memiliki dampak yang lebih kompleks dibanding sekadar gangguan ovarium.
“Karena kalo PCOS orang mikirnya hanya di ovarium saja, padahal banyak efek-efek lain dari satu penyakit,” katanya.
Meski nama penyakit berubah, dr Luky memastikan metode diagnosis maupun pengobatan antara PCOS dan PMOS tetap sama. Pergantian istilah lebih difokuskan untuk memperjelas cakupan penyakit secara medis.
“Pengobatannya sih tetap sama diagnosticnya tetap sama, semuanya sama. Hanya, PMOS menggambarkan penyakitnya secara keseluruhan,” tuturnya. (hm20)
























