Netanyahu Disoraki dan Didemo Mundur dari Kursi PM

Perdana Menteri (PM) Israel Benjamin Netanyahu. (Foto: Istimewa)
Yerusalem, MISTAR.ID - Perdana Menteri (PM) Israel Benjamin Netanyahu disoraki dan didesak mundur dari jabatannya saat berpidato dalam upacara kelulusan perwira tempur di pangkalan militer Bahad 1, Israel selatan, Kamis (26/6/2026).
Dilaporkan harian Yedioth Ahronoth yang dikutip Anadolu Agency, teriakan tersebut terdengar ketika Netanyahu menyampaikan pidato pada acara kelulusan di sekolah pelatihan perwira tentara Israel itu.
Dalam pidatonya, Netanyahu mengklaim Israel berada di puncak perang regional yang masih berlangsung. Ia juga menyatakan negaranya telah "mengubah aturan main" di kawasan, menghancurkan penghalang rasa takut, serta membuktikan kekuatan militernya.
Insiden itu terjadi di tengah gelombang demonstrasi yang terus berlangsung di sejumlah kota di Israel. Para pengunjuk rasa menuntut pemilihan umum lebih awal dan menyalahkan pemerintahan Netanyahu atas kegagalan menangani serangan Hamas pada 7 Oktober 2023, serta dampak perang yang berkepanjangan di Jalur Gaza dan kawasan sekitarnya.
Di sisi lain, muncul laporan bahwa pemerintahan Presiden Amerika Serikat Donald Trump tengah berupaya mendorong perubahan pemerintahan di Israel setelah berulang kali berselisih dengan Netanyahu terkait kebijakan terhadap Iran.
Channel 12 pada Minggu (22/6/2026) melaporkan sejumlah pejabat di pemerintahan Trump menilai pemerintahan Netanyahu perlu diganti karena unsur-unsur di dalamnya dianggap terlalu garis keras.
"Pemerintahan AS telah menyatakan keprihatinan tentang kelompok garis keras dalam pemerintahan Netanyahu dan berupaya membangun basis dukungan populer baru sebelum pemilihan umum Israel," demikian laporan Channel 12 yang dikutip Anadolu Agency.
Sementara itu, hasil jajak pendapat yang dirilis surat kabar Maariv menunjukkan blok oposisi berpeluang membentuk pemerintahan apabila pemilu digelar saat ini. Oposisi diproyeksikan meraih 61 kursi, mengungguli blok pendukung Netanyahu yang diperkirakan memperoleh 49 kursi.
Survei tersebut juga menunjukkan partai-partai Arab berpotensi memenangkan 10 kursi pada pemilu yang dijadwalkan berlangsung Oktober mendatang. (hm25)






















