Saturday, June 27, 2026
home_banner_first
INTERNATIONAL

Selat Hormuz Kembali Memanas, Kapal Singapura Diserang dan Evakuasi Ditunda

Mistar.idSabtu, 27 Juni 2026 pukul 16.05 WIB
selat_hormuz_kembali_memanas_kapal_singapura_diserang_dan_evakuasi_ditunda

Ilustrasi. (foto: reuters/mistar)

news_banner

Jakarta, MISTAR.ID - Sebuah kapal kontainer berbendera Singapura dilaporkan menjadi sasaran serangan saat melintasi Selat Hormuz, Kamis (25/6/2026). Insiden tersebut mendorong Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) menunda sementara proses evakuasi ratusan kapal yang masih berada di kawasan tersebut.

Mengutip Al Jazeera Sabtu, (27/6/2026), laporan mengenai serangan pertama kali diterima United Kingdom Maritime Trade Operations (UKMTO). Kapal dilaporkan terkena hantaman proyektil di sisi kanan lambung sekitar 14 kilometer di tenggara Pelabuhan Dahit, Oman.

Sumber keamanan maritim menduga kapal kemungkinan diserang menggunakan drone. Namun, hingga kini belum diketahui pihak yang bertanggung jawab atas insiden tersebut.

Kapal yang diserang diidentifikasi sebagai Ever Lovely, kapal kontainer berbendera Singapura. Saat kejadian, kapal itu disebut berlayar secara mandiri dan tidak termasuk dalam konvoi evakuasi yang dikoordinasikan Organisasi Maritim Internasional (IMO).

Serangan terjadi hanya beberapa jam setelah Iran mengeluarkan peringatan agar kapal-kapal tidak melintasi Selat Hormuz tanpa izin dari Teheran. Menurut perusahaan keamanan maritim Ambrey, Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC) bahkan sempat memerintahkan dua kapal berbendera Panama untuk mengubah rute pelayarannya.

Otoritas Selat Teluk Persia (PGSA), lembaga yang dibentuk Iran untuk mengelola lalu lintas di Selat Hormuz, juga menyatakan kapal yang berlayar di luar jalur resmi tidak akan mendapatkan jaminan keamanan.

"Segala konsekuensi akibat pelayaran di luar jalur yang ditetapkan menjadi tanggung jawab pemilik, operator, dan nakhoda kapal," demikian pernyataan PGSA melalui akun X.

PBB Tunda Evakuasi

Sejak Selasa (23/6/2026), IMO yang berada di bawah naungan PBB menjalankan operasi untuk mengevakuasi sekitar 600 kapal dan 11.000 pelaut yang tertahan akibat terganggunya pelayaran di Selat Hormuz selama konflik Amerika Serikat, Israel, dan Iran.

Rencana tersebut menyediakan dua jalur pelayaran, yakni melalui perairan Iran dan perairan Oman dengan pengawasan Amerika Serikat. Namun, menyusul laporan serangan terhadap kapal berbendera Singapura, Sekretaris Jenderal IMO, Arsenio Dominguez, memutuskan menunda sementara operasi tersebut.

Ia mengatakan penundaan dilakukan untuk memastikan jaminan keselamatan bagi seluruh kapal yang masuk dalam daftar evakuasi maupun kapal lain yang masih beroperasi di kawasan tersebut.

IMO menegaskan proses evakuasi akan kembali dilanjutkan setelah kondisi keamanan di Selat Hormuz dinilai kondusif dan jalur pelayaran dipastikan aman untuk dilalui.



BERITA TERPOPULER

BERITA PILIHAN