Tuesday, September 8, 2026
home_banner_first
INTERNATIONAL

Iran Pamer Rudal Qassem Basir, Siap Serang Hadapi Ancaman

Mistar.idSelasa, 8 September 2026 pukul 11.35 WIB
iran_pamer_rudal_qassem_basir_siap_serang_hadapi_ancaman

Uji coba peluncuran rudal Qasem Basir pada Mei 2025. (foto: iranintl)

news_banner

Teheran, MISTAR.ID - Iran mengisyaratkan perubahan doktrin militernya dengan menegaskan kesiapan mengambil tindakan terhadap ancaman bahkan sebelum serangan benar-benar dilakukan.

Media pemerintah Iran pada Senin melaporkan rudal balistik Qassem Basir dengan kemampuan yang ditingkatkan menjadi bagian dari perubahan strategi pertahanan tersebut.

Kepala Dewan Keamanan Nasional Tertinggi Iran, Mohsen Rezaei, sebelumnya mengatakan kemampuan rudal baru Iran telah “diuji” terhadap sebuah kapal perang Amerika Serikat (AS). Namun, belum jelas apakah rudal yang dimaksud adalah Qassem Basir.

“[Iran] akan mengambil tindakan terhadap setiap ancaman, bahkan sebelum ancaman itu dilaksanakan,” demikian laporan media pemerintah Iran seperti dikutip Associated Press (AP).

Laporan tersebut menyebut Qassem Basir sebagai “titik balik dalam strategi pertahanan Iran”.

Rudal berbahan bakar padat itu diklaim memiliki jangkauan dan akurasi lebih baik serta mampu membawa hulu ledak sekitar setengah ton. Saat diperkenalkan tahun lalu, Qassem Basir disebut memiliki jangkauan sedikitnya 1.200 kilometer.

Pernyataan Iran muncul setelah AS menyebut rudal balistik diluncurkan ke arah kapal-kapal perangnya pada Sabtu (5/9/2026). Washington kemudian menyerang tiga kapal tanker minyak Iran sebagai balasan.

Para ahli menilai serangan terhadap kapal perang AS sebagai eskalasi serius. Sebelumnya, serangan Iran di laut selama perang lebih banyak menyasar kapal komersial. AS menyatakan kapal-kapal perangnya berhasil menghindari serangan tersebut.

Program rudal balistik Iran sebelumnya juga menjadi salah satu alasan yang dikemukakan AS dan Israel ketika melancarkan serangan terhadap Iran pada awal tahun ini.

Di tengah meningkatnya ketegangan, Iran juga sempat mengumumkan rencana membentuk “zona eksklusi” di sekitar Selat Hormuz. Gedung Putih menolak klaim tersebut dan menegaskan jalur pelayaran strategis itu tetap terbuka.

Ketegangan di Selat Hormuz turut memicu kekhawatiran negara-negara Teluk. Penasihat diplomatik Presiden Uni Emirat Arab, Anwar Gargash, sebelumnya menegaskan tidak boleh ada satu negara pun yang mengendalikan selat tersebut dan mengancam arus perdagangan serta ekspor energi kawasan. (*)



BERITA TERPOPULER

BERITA PILIHAN