Thursday, June 4, 2026
home_banner_first
INTERNATIONAL

Iran Ancam Blokade Selat Hormuz, Trump Balas dengan Peringatan Serangan Besar

Mistar.idSelasa, 10 Maret 2026 16.33
journalist-avatar-top
iran_ancam_blokade_selat_hormuz_trump_balas_dengan_peringatan_serangan_besar

Jalur kapal di Selat Hormuz (Foto: Istimewa/Mistar)

news_banner

Pematangsiantar, MISTAR.ID

Ketegangan global meningkat tajam setelah Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) mengancam akan memblokade total pengiriman minyak di Selat Hormuz, jalur vital yang mengalirkan seperlima pasokan minyak dunia. Ancaman ini memicu respons keras dari Donald Trump, yang bersumpah akan melancarkan serangan balasan lebih dahsyat jika Iran mengganggu aliran energi global.

IRGC Tegaskan Kendali Penuh atas Selat Hormuz

Dalam pernyataan resmi yang dilaporkan oleh Reuters, juru bicara IRGC menegaskan bahwa mereka memiliki kendali penuh atas konflik saat ini, termasuk keputusan terkait lalu lintas kapal di Selat Hormuz.

“Kami adalah pihak yang akan menentukan akhir dari perang ini,” tegas juru bicara, Selasa (10/3/2026).

Ancaman ini muncul di tengah kekhawatiran global akibat pengangkatan Mojtaba Khamenei sebagai Pemimpin Tertinggi baru Iran, yang dianggap menandakan Teheran tidak akan mundur dalam waktu dekat.

Trump Balas dengan Peringatan Keras

Menanggapi gertakan Teheran, Donald Trump menyatakan dalam konferensi pers bahwa militer AS telah memberikan kerusakan signifikan pada kekuatan tempur Iran. Trump memperingatkan bahwa serangan AS akan meningkat drastis jika Iran menutup jalur kapal tanker di Selat Hormuz.

“Kami akan memukul mereka dengan sangat keras sehingga tidak mungkin bagi mereka atau siapa pun yang membantu mereka untuk dapat memulihkan bagian dunia itu lagi,” ujar Trump.

Selain konferensi pers, Trump juga menegaskan ancamannya melalui platform Truth Social, menyatakan serangan AS bisa 20 kali lebih keras jika Iran menahan aliran minyak di kawasan tersebut.

Situasi Lapangan Semakin Mencekam

Kondisi di lapangan dilaporkan kian tegang setelah sebuah kilang minyak di Teheran terkena serangan, menimbulkan kepulan asap hitam di ibu kota. Eskalasi juga menyusul serangan militer Israel ke wilayah tengah Iran dan Beirut, Lebanon, sebagai balasan terhadap aktivitas milisi Hizbullah.

Duta Besar Iran untuk PBB melaporkan bahwa setidaknya 1.332 warga sipil telah tewas dan ribuan lainnya terluka sejak rentetan serangan udara dan rudal yang dilakukan AS dan Israel pada akhir Februari.

Dampak Global dan Ekonomi

Blokade atau gangguan di Selat Hormuz membuat kapal tanker terhenti selama lebih dari seminggu dan memaksa beberapa produsen menghentikan pemompaan minyak. Harga minyak Brent sempat melonjak 29% sebelum turun 10% akibat sinyal pelonggaran sanksi energi terhadap Rusia dari AS.

Di dalam negeri, warga Amerika khawatir kenaikan harga bahan bakar menjelang pemilihan paruh waktu November. Jajak pendapat Reuters/Ipsos menunjukkan 67% warga AS memperkirakan harga gas akan naik, sementara hanya 29% menyetujui perang ini.

Dunia Menunggu Respons Selanjutnya

Situasi di Timur Tengah tetap sangat volatil, dengan pasar saham global bergerak naik-turun mengikuti perkembangan medan tempur. Dunia kini menantikan apakah ancaman Iran akan benar-benar dijalankan, berisiko memicu respons militer besar dari Washington.

BERITA TERPOPULER

BERITA PILIHAN