Thursday, June 4, 2026
home_banner_first
INTERNATIONAL

PM Pakistan Umumkan Kebijakan WFH Seiring Melonjaknya Harga Minyak Dunia

Mistar.idSelasa, 10 Maret 2026 12.57
EH
pm_pakistan_umumkan_kebijakan_wfh_seiring_melonjaknya_harga_minyak_dunia

Perdana Menteri Shehbaz Sharif. (Foto: Arabnews.com)

news_banner

Islamabad, MISTAR.ID

Perdana Menteri Shehbaz Sharif mengumumkan kebijakan work from home kepada pekerja hingga siswa. Kebijakan ini diambil demi penghematan energi karena harga minyak dunia melonjak akibat konflik antara Amerika Serikat, Israel, dan Iran.

Sharif menyebut keputusan tersebut tidak mudah diambil. Ia mengaku ingin menghindari kenaikan harga lebih lanjut yang dapat semakin membebani masyarakat, mengingat sebagian besar warga Pakistan masih hidup dalam kondisi ekonomi sulit.

Meski demikian, menurutnya langkah itu tetap harus dilakukan. Ia bahkan memperingatkan bahwa dunia kini tengah menghadapi situasi baru dalam sektor energi. “Krisis energi adalah krisis baru,” ujarnya.

Dalam rapat pemerintah, Senin (9/3/2026), menteri menyepakati sejumlah langkah agar mencegah situasi semakin memburuk. Kantor-kantor pemerintahan, kecuali sektor perbankan, akan menerapkan sistem kerja empat hari dalam sepekan. Selain itu, separuh pegawai diminta bekerja dari rumah atau work from home (WFH).

Pemerintah juga memutuskan memperpanjang masa libur sekolah. Setelah dua minggu, kegiatan belajar akan dilanjutkan secara daring.

Langkah penghematan lainnya termasuk pemangkasan tunjangan bahan bakar untuk kendaraan dinas sebesar 50 persen selama dua bulan ke depan. Kebijakan tersebut tidak berlaku bagi kendaraan darurat seperti ambulans.

Selain itu, pemerintah juga menyetujui pengurangan gaji pegawai negeri, larangan pembelian peralatan baru, serta pembatasan perjalanan dinas ke luar negeri kecuali yang benar-benar penting bagi kepentingan negara, kata Sharif.

Rapat atau pertemuan secara daring akan lebih diprioritaskan demi mengurangi penggunaan energi.

Dampak krisis energi di kawasan Teluk juga dirasakan negara lain di Asia Selatan. Pada Minggu lalu, Bangladesh yang mengimpor sekitar 95 persen kebutuhan minyak dan gasnya mulai menerapkan sistem penjatahan bahan bakar. Kebijakan itu menyebabkan antrean panjang di SPBU dan meningkatkan potensi gangguan keamanan akibat kerusuhan.

Selain itu, sejumlah kegiatan publik seperti pertunjukan lampu dalam rangka perayaan kemerdekaan dan Ramadan di negara tersebut juga terpaksa dibatalkan. (hm20)

BERITA TERPOPULER

BERITA PILIHAN