Wednesday, September 2, 2026
home_banner_first
INTERNATIONAL

IAEA Konfirmasi Program Nuklir Rahasia Suriah, 73 Ton Uranium Ditemukan

Mistar.idRabu, 2 September 2026 pukul 17.47 WIB
iaea_konfirmasi_program_nuklir_rahasia_suriah_73_ton_uranium_ditemukan

Menteri Luar Negeri Suriah Asaad Al-Shaibani berbicara dalam konferensi pers bersama Direktur Jenderal Badan Energi Atom Internasional (IAEA) Rafael Grossi di bekas Istana Kepresidenan Tishreen, Damaskus, Suriah, 18 Agustus 2026. (foto: Mohamed Al Rifai/EPA via Aljazeera)

news_banner

Vienna, MISTAR.ID - Badan Energi Atom Internasional (IAEA) mengonfirmasi Suriah berupaya membangun reaktor nuklir yang tidak dilaporkan di Provinsi Deir Az Zor pada masa pemerintahan mantan Presiden Bashar al-Assad.

Kesimpulan itu disampaikan setelah badan pengawas nuklir Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) tersebut melakukan pemeriksaan dan verifikasi di sejumlah lokasi di Suriah pada Agustus 2026.

Melansir Al Jazeera, Rabu (2/9/2026), laporan rahasia IAEA yang diperoleh AFP dan AP menyebut infrastruktur pendingin yang kini terungkap di lokasi Deir Az Zor memiliki karakteristik yang sesuai dengan sebuah reaktor nuklir.

IAEA menyatakan akan terus memantau aktivitas di lokasi tersebut seiring berlanjutnya proses penggalian.

Suriah selama pemerintahan Bashar al-Assad diyakini menjalankan program nuklir yang tidak dilaporkan, termasuk pembangunan reaktor di Deir Az Zor yang diduga dibangun dengan keterlibatan Korea Utara.

Keberadaan fasilitas tersebut baru diketahui publik setelah Israel melancarkan serangan udara pada 2007 dan menghancurkannya. Pemerintah Suriah kemudian meratakan lokasi tersebut dan tidak pernah memberikan jawaban lengkap atas pertanyaan IAEA mengenai fasilitas itu.

Israel sendiri diyakini memiliki program senjata nuklir yang tidak diumumkan dan disebut sebagai satu-satunya negara di Timur Tengah yang memiliki bom nuklir. Israel tidak pernah mengonfirmasi maupun membantah kepemilikan senjata atom tersebut.

Setelah Bashar al-Assad lengser pada awal Desember 2024, pemerintahan baru Suriah memberikan akses kepada inspektur IAEA untuk memeriksa lokasi-lokasi yang diduga berkaitan dengan program nuklir era pemerintahan sebelumnya.

IAEA mengambil sampel di lokasi tersebut pada 2024 dan pada tahun berikutnya melaporkan bahwa sampel itu mengandung partikel uranium.

Dalam laporan terbarunya, IAEA juga menyatakan berhasil memastikan bahwa pemerintahan Suriah sebelumnya gagal melaporkan material nuklir, fasilitas, dan aktivitas nuklir kepada badan tersebut.

Selain reaktor yang saat itu masih dalam tahap pembangunan di Deir Az Zor, IAEA mencatat keberadaan fasilitas pembuatan bahan bakar nuklir serta lokasi penyimpanan bahan bakar, sisa uranium, dan limbah nuklir.

Dalam kunjungannya ke Suriah, Direktur Jenderal IAEA Rafael Grossi bersama tim inspektur senior juga mendatangi lokasi lain yang sebelumnya tidak pernah dilaporkan kepada badan tersebut.

Pemerintahan baru Suriah memberitahukan keberadaan lokasi itu kepada IAEA melalui surat tertanggal 17 Juli 2026. Damaskus sekaligus mengundang IAEA untuk memeriksa lokasi dan memverifikasi kemungkinan keberadaan material nuklir.

Di lokasi tersebut, IAEA menemukan logam uranium alami dalam bentuk batang bahan bakar berlapis.

Hasil verifikasi memastikan terdapat sekitar 73 ton uranium alami. Seluruh material nuklir tersebut kini berada di bawah langkah pengendalian dan pengawasan IAEA.

Pemerintahan baru Suriah juga menyatakan tertarik mengembangkan program energi nuklir untuk kepentingan sipil. Damaskus mengatakan setiap material nuklir yang ditemukan di negaranya akan tetap berada dalam penguasaan Suriah di bawah sistem pengamanan internasional. (*)



BERITA TERPOPULER

BERITA PILIHAN