Friday, June 12, 2026
home_banner_first
INTERNATIONAL

Hacker Iran Klaim Retas Drone FBI, Ancam Piala Dunia di AS

Mistar.idJumat, 12 Juni 2026 20.34
AN
hacker_iran_klaim_retas_drone_fbi_ancam_piala_dunia_di_as

Ilustrasi. (Foto: Istimewa)

news_banner

Washington DC, MISTAR.ID

Kelompok hacker yang diduga terkait Iran, Handala, mengklaim telah meretas drone milik Biro Investigasi Federal (FBI) Amerika Serikat (AS) dan mengancam akan menargetkan penyelenggaraan Piala Dunia yang mulai berlangsung di AS pekan ini.

Dilansir AFP, Jumat (12/6/2026), klaim tersebut diungkap melalui pernyataan yang dipublikasikan SITE Intelligence Group, organisasi yang memantau aktivitas kelompok jihadis dan siber.

Dalam pernyataannya, Handala mengaku telah memiliki akses selama berbulan-bulan ke sistem drone first-person view (FPV) milik FBI. Mereka mengklaim dapat mengakses seluruh gambar dan data yang diperoleh drone tersebut dalam berbagai operasi.

Kelompok itu juga menyebut drone FBI dilengkapi teknologi pengenalan wajah dan pemindai pelat nomor yang digunakan dalam operasi kontra-terorisme.

Handala turut mengancam keamanan Piala Dunia yang digelar di AS. Dalam pesannya, kelompok tersebut meminta pihak berwenang memperketat pengamanan turnamen dan menyebut drone FPV dapat berada di mana saja.

FBI diketahui mengerahkan sejumlah drone untuk membantu pengamanan stadion dan kawasan sekitar selama pelaksanaan Piala Dunia. Otoritas AS juga telah melarang penerbangan drone tanpa izin di atas stadion maupun area kegiatan pendukung turnamen.

Sementara itu, Departemen Kehakiman AS sebelumnya telah memperingatkan adanya potensi serangan siber dari kelompok peretas Iran di tengah meningkatnya konflik di Timur Tengah yang melibatkan AS, Israel, dan Iran sejak Februari lalu.

Handala juga merilis sejumlah foto dan video yang diklaim berasal dari hasil peretasan drone FBI. Namun, SITE Intelligence Group membantah klaim tersebut dan menyebut salah satu video yang beredar sebenarnya merupakan materi promosi teknologi kepolisian yang diproduksi pada Desember 2024.

Sebelumnya, pada Maret 2026, Handala mengaku telah meretas akun email Direktur FBI, Kash Patel, dan menyebarkan sejumlah foto pribadi serta dokumen lainnya ke internet.

Pemerintah AS melalui Departemen Luar Negeri bahkan menawarkan hadiah hingga US$10 juta atau sekitar Rp178,4 miliar bagi siapa saja yang dapat memberikan informasi yang mengarah pada identifikasi anggota kelompok hacker tersebut. (hm25)

BERITA TERPOPULER

BERITA PILIHAN