Monday, July 20, 2026
home_banner_first
INTERNATIONAL

Detik-Detik Tenggat Trump: AS–Iran Bahas Gencatan Senjata 45 Hari, Ancaman Serangan Besar Mengintai

Mistar.idSenin, 6 April 2026 pukul 13.49 WIB
detikdetik_tenggat_trump_asiran_bahas_gencatan_senjata_45_hari_ancaman_serangan_besar_mengintai

Ilustrasi, AS–Iran Bahas Gencatan Senjata 45 Hari, Ancaman Serangan Besar Mengintai. (foto:ferry/gemini/mistar)

news_banner

Pematangsiantar, MISTAR.ID

Amerika Serikat, Iran, dan sejumlah mediator regional tengah membahas skema gencatan senjata selama 45 hari yang berpotensi menjadi pintu masuk menuju pengakhiran perang secara permanen. Namun, empat sumber dari AS, Israel, dan kawasan yang mengetahui proses diplomasi tersebut menilai peluang tercapainya kesepakatan parsial dalam 48 jam ke depan sangat tipis.

Upaya terakhir ini dinilai sebagai satu-satunya peluang untuk mencegah eskalasi besar-besaran. Jika negosiasi gagal, skenario serangan masif terhadap infrastruktur sipil Iran disebut sudah disiapkan, yang berpotensi dibalas dengan serangan terhadap fasilitas energi dan air di negara-negara Teluk.

Tenggat Trump dan Ancaman Serangan

Presiden AS, Donald Trump, sebelumnya memberi tenggat 10 hari kepada Iran yang dijadwalkan berakhir Senin malam. Namun pada Minggu, ia memperpanjang tenggat tersebut selama 20 jam dan menetapkan batas akhir baru hingga Selasa pukul 20.00 waktu setempat.

Dalam wawancara dengan Axios, Trump mengaku AS sedang berada dalam “negosiasi mendalam” dengan Iran dan peluang kesepakatan masih terbuka sebelum tenggat berakhir.

“Ada peluang bagus. Tapi jika mereka tidak membuat kesepakatan, saya akan menghancurkan semuanya di sana,” ujarnya.

Trump bahkan mengancam akan menghancurkan infrastruktur vital Iran jika kesepakatan tak tercapai—langkah yang berpotensi dikategorikan sebagai kejahatan perang. Iran pun mengancam akan membalas dengan menyerang infrastruktur di Israel dan negara-negara Teluk.

Dua sumber menyebut rencana operasional kampanye pengeboman besar-besaran AS-Israel terhadap fasilitas energi Iran telah siap dijalankan. Namun, perpanjangan tenggat diklaim sebagai upaya terakhir membuka ruang diplomasi.

Skema Dua Tahap: 45 Hari Menuju Akhir Perang

Negosiasi berlangsung melalui mediator dari Pakistan, Mesir, dan Turki. Selain itu, komunikasi juga dilakukan lewat pesan teks antara utusan Trump, Steve Witkoff, dan Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araghchi.

Seorang pejabat AS menyatakan pemerintahan Trump telah mengajukan beberapa proposal dalam beberapa hari terakhir, tetapi hingga kini belum diterima oleh Teheran.

Para mediator tengah membahas kesepakatan dua tahap. Tahap pertama berupa gencatan senjata selama 45 hari, di mana dalam periode tersebut akan dinegosiasikan penyelesaian permanen konflik. Gencatan senjata bisa diperpanjang jika pembicaraan membutuhkan waktu tambahan.

Tahap kedua mencakup kesepakatan final untuk mengakhiri perang secara menyeluruh.

Mediator meyakini pembukaan penuh kembali Strait of Hormuz serta solusi atas stok uranium yang diperkaya tinggi milik Iran—baik melalui pemindahan ke luar negeri atau pengenceran—hanya bisa dicapai dalam kesepakatan final.

Selat Hormuz dan Uranium Jadi Kartu Tawar

Selat Hormuz dan uranium menjadi dua kartu tawar utama Iran. Dua sumber menyebut Teheran tidak akan menyerahkan sepenuhnya kedua isu strategis itu hanya untuk gencatan senjata 45 hari.

Mediator kini berupaya mencari langkah parsial yang bisa diambil Iran dalam tahap pertama, termasuk langkah membangun kepercayaan terkait pembukaan selat dan pengelolaan stok uranium.

Di sisi lain, mediator juga mendesak pemerintahan Trump memberikan jaminan bahwa gencatan senjata tidak sekadar sementara dan perang tidak akan kembali meletus.

Pejabat Iran menegaskan mereka tidak ingin mengalami situasi seperti di Gaza atau Lebanon, di mana gencatan senjata hanya berlaku di atas kertas sementara serangan bisa kembali terjadi sewaktu-waktu.

Gedung Putih menolak memberikan komentar resmi terkait perkembangan negosiasi.

Ancaman Balasan ke Negara Teluk

Sumber yang mengetahui langsung pembahasan menyebut para mediator sangat khawatir bahwa jika terjadi serangan AS-Israel terhadap infrastruktur energi Iran, maka pembalasan Teheran bisa berdampak destruktif terhadap fasilitas minyak dan air di negara-negara Teluk.

Para mediator telah memperingatkan pejabat Iran bahwa tidak ada lagi waktu untuk taktik negosiasi. Mereka menegaskan 48 jam ke depan merupakan kesempatan terakhir untuk mencegah kehancuran besar bagi Iran dan kawasan.

Namun, setidaknya secara terbuka, pejabat Iran masih mengambil sikap keras dan menolak konsesi. Angkatan Laut Korps Garda Revolusi Iran bahkan menyatakan situasi di Selat Hormuz “tidak akan pernah kembali” seperti sebelum perang, khususnya bagi AS dan Israel.

Dengan tenggat yang semakin dekat, dunia kini menanti apakah diplomasi mampu meredam konflik—atau justru membuka babak baru eskalasi di kawasan paling strategis bagi pasokan energi global tersebut.

(axios/ai/hm27)



BERITA TERPOPULER

BERITA PILIHAN