Sunday, July 19, 2026
home_banner_first
INTERNATIONAL

Aramco Hentikan Operasi Usai Serangan Drone, Harga Minyak Melonjak! Ini Dampaknya ke Pasar Global

Mistar.idSenin, 2 Maret 2026 pukul 17.43 WIB
aramco_hentikan_operasi_usai_serangan_drone_harga_minyak_melonjak_ini_dampaknya_ke_pasar_global

Ilustrasi, Aramco Hentikan Operasi Usai Serangan Drone. (foto:wikipedia/mistar)

news_banner

Pematangsiantar, MISTAR.ID

Ketegangan geopolitik di Timur Tengah kembali mengguncang pasar energi dunia. Raksasa minyak milik Arab Saudi, Saudi Aramco, menghentikan sementara sejumlah operasional pentingnya setelah serangan drone menghantam fasilitas strategis mereka. Keputusan ini langsung memicu lonjakan harga minyak global dan kekhawatiran terhadap stabilitas pasokan energi internasional.

Langkah penghentian operasi tersebut bukan sekadar gangguan teknis biasa. Dampaknya merambat ke pasar global, memicu volatilitas harga, dan menyoroti rapuhnya infrastruktur energi di tengah eskalasi konflik kawasan.

Apa Itu Aramco?

Saudi Aramco adalah perusahaan minyak dan gas terbesar di dunia berdasarkan produksi dan cadangan yang dikelola. Perusahaan ini menjadi tulang punggung ekonomi Arab Saudi sekaligus pemain kunci dalam stabilitas energi global.

Sebagian besar saham Aramco dimiliki oleh Pemerintah Arab Saudi, menjadikannya instrumen strategis kebijakan energi dan geopolitik kerajaan tersebut. Sejak IPO pada 2019, sebagian kecil sahamnya diperdagangkan di bursa, namun kontrol tetap berada di tangan negara.

Aramco memproduksi jutaan barel minyak per hari dan menjadi salah satu penentu utama dinamika harga minyak dunia bersama negara-negara anggota OPEC.

Mengapa Aramco Menghentikan Operasi?

Penghentian operasi terjadi setelah serangan drone menghantam fasilitas utama di Ras Tanura, salah satu kilang dan terminal ekspor terbesar milik Aramco.

Sebagai langkah pencegahan dan evaluasi keamanan, perusahaan menutup sementara fasilitas tersebut untuk memastikan tidak ada risiko lanjutan terhadap keselamatan pekerja maupun infrastruktur.

Selain itu, Aramco juga menghentikan ekspor LPG dari terminal Juaymah akibat kerusakan sistem distribusi propane dan butane.

Keputusan ini disebut sebagai tindakan preventif untuk menjaga keamanan operasional di tengah meningkatnya ancaman terhadap infrastruktur energi kawasan.

Kronologi Singkat Peristiwa

- 23–25 Februari 2026: Sistem distribusi LPG di Juaymah dilaporkan mengalami gangguan serius, ekspor dihentikan sementara.

- Akhir Februari 2026: Perbaikan diperkirakan memakan waktu hingga satu bulan.

- 2 Maret 2026: Serangan drone menghantam fasilitas Ras Tanura. Aramco mengumumkan penghentian sementara operasional sebagai langkah pengamanan.

Fakta Penting yang Perlu Diketahui

* Ras Tanura memiliki kapasitas sekitar 550.000 barel per hari (bpd) — salah satu fasilitas pengolahan terbesar di kawasan.

* Terminal Juaymah mengekspor sekitar 450.000 ton LPG per bulan, mayoritas ke pasar Asia.

* Harga minyak mentah Brent Crude melonjak sekitar 10 persen setelah kabar penghentian operasi.

* Tidak ada laporan korban jiwa dalam insiden tersebut.

* Ini bukan pertama kalinya Aramco terdampak serangan; pada 2019, fasilitas Abqaiq-Khurais pernah diserang dan memangkas produksi global secara drastis.

Data dan Dampak Global

Lonjakan harga Brent menunjukkan betapa sensitifnya pasar terhadap gangguan di Arab Saudi. Negara ini adalah salah satu eksportir minyak terbesar dunia. Setiap gangguan pasokan langsung memicu reaksi spekulatif di pasar komoditas.

Dampak yang berpotensi muncul:

- Kenaikan harga BBM di berbagai negara.

- Tekanan inflasi energi di Asia dan Eropa.

- Gangguan rantai pasok LPG, terutama untuk industri dan rumah tangga.

Bagi Indonesia, perkembangan ini perlu dicermati mengingat ketergantungan impor energi. Perusahaan seperti Pertamina biasanya meningkatkan pemantauan risiko geopolitik dalam kondisi seperti ini.

3 Insight Menarik yang Jarang Dibahas

1. Aramco adalah simbol stabilitas ekonomi Saudi. Setiap gangguan operasional bukan hanya isu energi, tetapi juga berdampak pada kepercayaan investor global.

2. Infrastruktur energi kini menjadi target strategis konflik modern. Serangan drone relatif murah, namun mampu memicu guncangan ekonomi miliaran dolar.

3. Pasar sering bereaksi lebih cepat daripada dampak riil produksi. Kenaikan harga tidak selalu mencerminkan kehilangan pasokan aktual, tetapi ekspektasi risiko di masa depan.

Perbandingan dengan Serangan 2019

Pada 2019, serangan ke fasilitas Abqaiq-Khurais sempat memangkas lebih dari 5 juta barel per hari produksi Saudi — sekitar 5 persen pasokan global saat itu. Peristiwa tersebut menjadi salah satu gangguan energi terbesar dalam sejarah modern.

Dibandingkan insiden kali ini, skala gangguan lebih terbatas, namun efek psikologis pasar tetap signifikan.

(berbagaisumber/ai/hm27)



BERITA TERPOPULER

BERITA PILIHAN