Rupiah Tersungkur ke Rp16.830 per Dolar AS, Konflik Global Jadi Biang Kerok

Ilustrasi, Rupiah Tersungkur ke Rp16.830 per Dolar AS, Konflik Global Jadi Biang Kerok. (foto:dokumen/mistar)
Pematangsiantar, MISTAR.ID
Nilai tukar rupiah kembali tertekan pada awal pekan. Pada pembukaan perdagangan Senin (2/3/2026), rupiah melemah ke kisaran Rp16.829–Rp16.838 per dolar Amerika Serikat (AS), turun sekitar 0,25–0,29 persen dibandingkan penutupan Jumat sebelumnya di level Rp16.787 per dolar AS.
Pelemahan ini terjadi di tengah meningkatnya tensi geopolitik global, terutama setelah eskalasi konflik antara Amerika Serikat, Israel, dan Iran yang memicu sentimen risk-off di pasar keuangan dunia.
Dolar AS Menguat, Investor Cari Safe Haven
Meningkatnya ketidakpastian global membuat investor global memburu aset aman (safe haven) seperti dolar AS. Indeks dolar AS (DXY) tercatat berada di kisaran 97,8–97,9, mencerminkan penguatan mata uang Negeri Paman Sam terhadap sejumlah mata uang utama dunia.
Tekanan tidak hanya dirasakan rupiah. Sejumlah mata uang Asia juga melemah terhadap dolar AS, antara lain:
- Won Korea Selatan turun sekitar 0,72 persen
- Peso Filipina melemah 0,58 persen
- Ringgit Malaysia tertekan sekitar 0,26 persen
- Yen Jepang terkoreksi 0,13 persen
Kondisi ini menunjukkan bahwa pelemahan rupiah bukan semata faktor domestik, melainkan bagian dari gelombang tekanan regional akibat sentimen global.
Bank Indonesia Siap Intervensi
Bank Indonesia (BI) menegaskan komitmennya untuk menjaga stabilitas nilai tukar rupiah sesuai fundamental ekonomi. Otoritas moneter menyatakan siap melakukan intervensi di pasar valas melalui transaksi spot maupun instrumen Non-Deliverable Forward (NDF) dan Domestic NDF (DNDF).
Langkah ini dilakukan untuk meredam volatilitas berlebihan dan menjaga kepercayaan pelaku pasar.
Dampak ke Ekonomi Domestik
Pelemahan rupiah ke level Rp16.800-an berpotensi memberikan sejumlah dampak ekonomi, antara lain:
1. Tekanan terhadap impor – Barang impor, termasuk bahan baku industri dan energi, berpotensi lebih mahal.
2. Risiko inflasi meningkat – Jika pelemahan berlanjut, harga barang konsumsi bisa terdampak.
3. Beban utang valas bertambah – Korporasi dengan utang dolar akan menghadapi kenaikan kewajiban pembayaran.
4. Tekanan di pasar saham – Sentimen risk-off juga memicu koreksi di pasar modal.
Meski demikian, di sisi lain, pelemahan rupiah dapat memberikan keuntungan bagi sektor berorientasi ekspor karena nilai penerimaan dalam dolar menjadi lebih tinggi ketika dikonversi ke rupiah.
Masih Fluktuatif, Bisa Sentuh Rp17.000?
Sejumlah analis memproyeksikan pergerakan rupiah pekan ini masih berada dalam rentang Rp16.750 hingga Rp16.900 per dolar AS. Jika eskalasi konflik global memburuk dan arus modal keluar meningkat, bukan tidak mungkin rupiah menguji level psikologis Rp17.000 per dolar AS.
Namun, fundamental ekonomi domestik yang relatif stabil, termasuk cadangan devisa dan inflasi yang terkendali, dinilai masih menjadi penopang penting.
Dibandingkan Tekanan Sebelumnya
Sebagai perbandingan, rupiah juga sempat mengalami tekanan signifikan pada 2018 saat gejolak kebijakan suku bunga The Fed serta pada 2022 akibat lonjakan harga komoditas global dan perang Rusia-Ukraina.
Situasi saat ini memiliki pola serupa: kombinasi sentimen global, penguatan dolar AS, serta arus modal yang sensitif terhadap risiko geopolitik.
Kenapa Ini Penting?
Pergerakan rupiah bukan sekadar angka di layar perdagangan. Nilai tukar memengaruhi harga barang, biaya produksi, daya beli masyarakat, hingga keputusan investasi. Di tengah ketidakpastian global, stabilitas rupiah menjadi indikator penting kepercayaan pasar terhadap ekonomi Indonesia.
Jika tensi geopolitik terus meningkat, volatilitas nilai tukar diperkirakan masih akan mewarnai pasar keuangan dalam beberapa waktu ke depan.
(berbagaisumber/ai/hm27)























