Unjuk Rasa Mahasiswa Nomensen di DPRD Sumut Nyaris Ricuh, Rektor Turun Tangan

Suasana unjuk rasa dari mahasiswa Universitas HKBP Nomensen Medan di Gedung DPRD Sumut, Senin (22/6/2026). (foto: ari/mistar)
Medan, MISTAR.ID
Aksi unjuk rasa ratusan mahasiswa Universitas HKBP Nommensen di depan Gedung DPRD Sumatera Utara (Sumut), Senin (22/6/2026), nyaris berujung ricuh. Ketegangan terjadi ketika massa aksi yang berupaya menyampaikan tuntutannya merasa tidak mendapat respons dari pihak legislatif.
Situasi memanas saat para mahasiswa terus melakukan orasi dan mendesak agar perwakilan DPRD Sumut menemui mereka secara langsung. Kekecewaan massa semakin meningkat karena hingga aksi berlangsung, tidak ada anggota dewan yang hadir untuk menerima aspirasi para demonstran.
Untuk meredam situasi yang semakin tidak kondusif, Rektor Universitas HKBP Nommensen, Richard AM Napitupulu, turun langsung ke lokasi aksi. Ia melakukan mediasi bersama Kapolrestabes Medan, Kombes Jean Calvijn Simanjuntak, serta Kepala Humas DPRD Sumut, Sofyan.
Namun, kehadiran rektor justru memicu reaksi keras dari sebagian mahasiswa. Massa menilai pimpinan kampus seharusnya berada di barisan mereka untuk mengawal penyampaian aspirasi, bukan melakukan komunikasi dengan pihak yang menjadi sasaran tuntutan aksi.
“Kurang ajar pak rektor, anda juga sudah bagian dari rezim. Kami ini mahasiswamu, harusnya kau kawal kami menyampaikan aspirasi, bukan malah bergabung dengan mereka,” teriak salah seorang mahasiswa dalam orasinya.
Massa aksi menilai bahwa rektornya bagian dari segelintir penjilat kekuasaan. Pasalnya, teriakan yang digaungkan dengan kalimat “Penjilat” menggema dalam orasi. “Untuk apa anda di situ wahai penjilat. Mau naik kekuasaan, atau takut dengan mereka,” ucap salah seorang massa aksi yang kemudian iikuti dengan seruan penjilat.

Rektor HKBP Nomensen Richard Napitupulu (kemeja merah) saat melakukan mediasi dengan Kapolrestabes Medan. (foto: ari/mistar)
Berdasarkan pengakuan salah seorang mahasiswa, dirinya saat ini menjadi korban perilaku intervensi. Pasalnya, orang tuanya saat ini sedang dihubungi oleh pihak yang tidak dikenal untuk menyuruh dirinya pulang.
“Orang tua saya memang polisi, tetapi saya tidak percaya dengan polisi. Saat ini saya sedang diintervensi, orang tua saya sudah dihubungi untuk menyuruh saya pulang,” katanya.
Suasana semakin tegang ketika massa aksi mendorong gerbang utama Gedung DPRD Sumut. Akibat desakan ratusan mahasiswa, gerbang tersebut nyaris roboh dan memaksa aparat kepolisian memperketat pengamanan di sekitar lokasi. Ratusan botol kemasan minuman turut menjadi senjata mahasiswa sebagai ungkapan kekecewaan mereka.
Aparat yang berjaga berupaya menahan massa agar tidak memasuki area gedung dewan. Sementara, sejumlah pihak terus melakukan pendekatan persuasif untuk mencegah terjadinya bentrokan.
Hingga berita ini diturunkan, aksi demonstrasi masih berlangsung dengan pengawalan ketat dari aparat keamanan. Mahasiswa tetap bersikeras meminta perwakilan DPRD Sumut hadir secara langsung untuk mendengarkan dan menanggapi tuntutan yang mereka sampaikan.

























