Siswa SD di Pematangsiantar Diduga Jadi Korban Kekerasan Ayah, Polisi Fokus Pemulihan Trauma

Ilustrasi, Siswa SD di Pematangsiantar Diduga Jadi Korban Kekerasan Ayah, Polisi Fokus Pemulihan Trauma. (foto:istimewa/mistar)
Pematangsiantar, MISTAR.ID
Jagat media sosial dihebohkan dengan dugaan kasus kekerasan yang menimpa AS (9), seorang siswa kelas I Sekolah Dasar di Kota Pematangsiantar, Sumatera Utara. Bocah tersebut ditemukan gurunya dalam kondisi memprihatinkan dengan luka memar di sekujur tubuh saat berada di sekolah.
Kejadian memilukan ini terungkap ketika guru korban melihat adanya keanehan pada fisik AS. Setelah diperiksa, ditemukan bekas luka yang diduga akibat kekerasan fisik. Kabar ini pun langsung menyebar luas dan mendapat atensi dari masyarakat serta pihak kepolisian setempat.
AS diketahui merupakan anak pertama dari tiga bersaudara. Keluarga ini tinggal mengontrak di sebuah rumah di salah satu gang di kawasan Kecamatan Siantar Marimbun. Berdasarkan informasi yang dihimpun, kondisi keluarga korban sedang tidak stabil setelah sang ibu meninggalkan rumah sejak Januari lalu.
Pihak kepolisian dari Satreskrim Polres Pematangsiantar bergerak cepat menanggapi laporan tersebut. Berdasarkan hasil pemeriksaan awal, pelaku yang merupakan ayah kandung korban mengaku melakukan aksi kekerasan tersebut karena tersulut emosi.
"Bapaknya mengatakan (pemukulan) itu karena emosi seketika. Sejak ibunya pergi bulan Januari, anak ini bersama adiknya sering berkeliaran di luar rumah. Saat bapaknya pulang dan melihat anaknya tidak ada di rumah, ia emosi dan langsung melakukan pemukulan," ujar Kanit PPA Satreskrim Polres Pematangsiantar, Ipda Darwin Siregar, kepada Mistar.id, Kamis (16/4/2026).
Terkait proses hukum, Ipda Darwin Siregar menjelaskan bahwa pihaknya tengah mengedepankan penanganan yang terbaik bagi masa depan sang anak. Untuk saat ini, polisi memilih fokus pada pemulihan trauma dan keamanan korban.
Ia menjelaskan pihak kepolisian sementara tidak melakukan penahanan terhadap sang ayah dengan mempertimbangkan sejumlah aspek. Pihak kepolisian telah berdiskusi dengan Dinas Sosial untuk mencarikan solusi terbaik bagi pengasuhan AS. Ada rencana untuk menempatkan AS di panti asuhan agar mendapatkan perawatan yang layak dan tidak terlantar.
"Kami sudah berkoordinasi dengan pihak Dinas Sosial untuk penanganan lebih lanjut, termasuk kemungkinan penempatan di panti asuhan. Bagaimana nantinya anak ini diurus dan dijaga, supaya tidak terlantar untuk sementara waktu," tuturnya. (hm27)













