WEF Keluarkan Peringatan Serius Bagi Negara Berkembang

World Economic Forum. (Foto: Reuters/Denis Balibouse)
Jakarta, MISTAR.ID
Laporan Global Risks Report 2026 yang dirilis World Economic Forum (WEF) mengeluarkan peringatan serius bagi perekonomian dunia, termasuk Indonesia. Minimnya peluang ekonomi (lack of economic opportunity) kini masuk dalam daftar sepuluh risiko global terbesar dalam jangka pendek.
Ancaman ini berkaitan erat dengan meningkatnya pengangguran, persoalan upah, serta makin terbatasnya mobilitas pekerja muda. Bagi negara-negara berkembang atau yang kerap disebut global south, termasuk Indonesia, risiko tersebut berpotensi makin tajam seiring percepatan transformasi teknologi dan tekanan ekonomi makro.
Istilah global south atau belahan bumi selatan sendiri merupakan istilah geopolitik untuk menyebut negara-negara berkembang yang mencakup sejumlah negara di Asia, Afrika, hingga Amerika Latin.
WEF menggambarkan dunia saat ini berada dalam pusaran krisis berlapis, mulai dari ancaman krisis iklim, konfrontasi geopolitik, hingga bayang-bayang krisis ketenagakerjaan yang serius. Dalam konteks Indonesia, kondisi ini menjadi tantangan besar karena transformasi digital dan adopsi teknologi canggih berpotensi memperlebar kesenjangan tenaga kerja apabila tidak diimbangi kebijakan yang tepat.
Salah satu sorotan utama dalam laporan WEF adalah dampak adopsi kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) terhadap pasar kerja. AI dinilai bukan hanya mendorong efisiensi, tetapi juga diperkirakan akan mendisrupsi struktur pekerjaan secara masif.
“Sekitar 54 persen eksekutif bisnis memperkirakan bahwa AI akan menggantikan pekerjaan yang ada, sementara hanya 24 persen yang memperkirakan akan ada penciptaan pekerjaan baru,” kata WEF dalam laporannya, Senin (26/1/2026).
Ketimpangan ini memunculkan kekhawatiran terjadinya kemajuan yang tersendat (stalled progress), ketika kecepatan adopsi teknologi melampaui kemampuan sistem pendidikan dan pelatihan tenaga kerja. Karena itu, kondisi ini menuntut angkatan kerja untuk beradaptasi dengan cepat.
Bagi Indonesia yang tengah menikmati bonus demografi, temuan tersebut menjadi alarm dini. WEF mencatat, sekitar 44 persen keterampilan inti (core skills) pekerja saat ini diproyeksikan akan terganggu atau tidak lagi relevan pada 2027.
Jika situasi ini tidak diantisipasi melalui program pelatihan ulang (reskilling) secara masif, kesenjangan keterampilan (skills gap) dapat memicu meningkatnya pengangguran struktural.
Kekhawatiran tersebut semakin besar karena persepsi terhadap AI di negara berpenghasilan menengah dan rendah cenderung skeptis. Hanya sekitar sepertiga responden di kelompok negara ini yang meyakini AI akan membawa dampak positif, di tengah kekhawatiran hilangnya mata pencaharian tanpa jaring pengaman sosial yang memadai.
Selain faktor teknologi, tekanan ekonomi makro juga dinilai mempersempit peluang kerja. WEF menyoroti inflasi yang persisten serta potensi penurunan ekonomi (economic downturn) sebagai risiko baru yang mengancam stabilitas ketenagakerjaan.
Tekanan biaya hidup dan perlambatan pertumbuhan dinilai dapat mendorong perusahaan melakukan efisiensi, mulai dari pembekuan rekrutmen hingga pemutusan hubungan kerja (PHK), yang pada akhirnya memperburuk risiko minimnya peluang ekonomi bagi masyarakat.
Dalam skenario terburuk, WEF memperingatkan bahwa krisis peluang ekonomi tanpa intervensi kebijakan yang memadai dapat memicu dampak sosial lanjutan, termasuk meningkatnya aktivitas ekonomi ilegal sebagai alternatif mata pencaharian.
“Krisis ekonomi ini dapat memicu dampak sosial turunan. Seperti meningkatnya aktivitas ekonomi ilegal sebagai alternatif mata pencaharian masyarakat yang terdesak,” ucapnya. (hm20)
PREVIOUS ARTICLE
Bulog Sumut Ungkap Penyebab Beras Alami Inflasi TahunanNEXT ARTICLE
Harga Emas Melesat ke Rekor Tertinggi Lagi















