Rupiah Melemah dan Biaya Logistik Naik, Pedagang Impor di Medan Tertekan

Tumpukan stok pakaian anak impor di salah satu ruko perdagangan. (foto:amita/mistar)
Medan, MISTAR.ID
Tekanan terhadap nilai tukar rupiah yang kian merosot terhadap dolar AS mulai memukul para pelaku usaha sektor perdagangan barang impor di Kota Medan.
Bukan hanya masalah kurs, badai tekanan juga dirasakan para pengusaha akibat tersendatnya jalur logistik internasional dan lonjakan tarif pengiriman barang yang sangat tinggi.
Seorang pengusaha mode yang khusus mendatangkan produk baju anak-anak impor dari China, Hilda, mengaku kelangsungan usahanya saat ini berada dalam posisi yang sangat terjepit. Kombinasi pelemahan mata uang domestik dan hambatan logistik global menjadi pemicu utamanya.
“Dampak dari kenaikan dolar AS ini sangat terasa sekali pada modal awal. Tapi yang membuat situasi jauh lebih berat sekarang karena barang impor makin susah masuk ke Indonesia. Dampaknya, ongkos ekspedisi atau pengiriman naik hampir dua kali lipat, dan itu memengaruhi harga barang di tingkat eceran makin melonjak,” kata Hilda kepada Mistar, Rabu (20/5/2026).
Situasi ini diperparah dengan kondisi pasar domestik yang tengah lesu. Menurut Hilda, daya beli masyarakat Medan saat ini berada di titik rendah akibat ketidakpastian situasi ekonomi makro dan geopolitik dunia yang terus memanas.
“Uang di masyarakat seperti tidak ada saat ini. Karena banyak gejolak di mana-mana, orang-orang sekarang cenderung menahan diri dan lebih memilih menyimpan uang ketimbang belanja pakaian,” ucapnya.
Hilda menambahkan, jika dipaksakan ikut berlomba harga murah dengan kompetitor, pelaku usaha akan tumbang. Keuntungan sudah sangat tipis, sementara perputaran barang lambat, padahal biaya operasional toko tetap berjalan.
Kondisi serupa ternyata tidak hanya dirasakan pelaku usaha independen, melainkan juga merembet ke pedagang grosir di Kota Medan. Hambatan pasokan barang dari China ini disebut memicu kelangkaan variasi stok di pasaran.
Seorang pedagang grosir pakaian anak impor di kawasan Pasar Pusat (Pusat Pasar) Medan, Rian, mengamini bahwa rantai pasok dari luar negeri sedang mengalami gangguan dalam dua bulan terakhir. Kendala di pelabuhan internasional membuat barang pesanan tertahan lama.
“Kami yang di grosir ini juga pusing. Barang dari China lambat sekali masuknya karena pemeriksaan di pelabuhan semakin ketat dan jalur kapal logistik dunia terganggu konflik. Mau tidak mau, harga jual terpaksa kami naikkan sekitar 15 sampai 20 persen untuk menutup ongkos kontainer yang naik gila-gilaan,” ujar Rian.
Rian menambahkan, kenaikan harga grosir tersebut otomatis membuat para pengecer di daerah ikut mengeluh karena kesulitan menjual kembali ke konsumen akhir.
Jika kondisi ini terus berlanjut tanpa adanya stabilisasi kurs dan kelancaran arus logistik dari pemerintah, industri perdagangan pakaian jadi di Sumatera Utara dikhawatirkan menghadapi risiko gelombang penutupan usaha secara massal. (hm27)
























