Pengamat: Inflasi Berpotensi Melonjak pada Mei-Juni 2026

Ilustrasi potensi ledakan inflasi yang akan dirasakan masyarakat pada periode Mei hingga Juni 2026. (Foto: Gemini)
Medan, MISTAR.ID
Eskalasi konflik antara Iran dengan Amerika Serikat (AS) dan Israel yang belum menunjukkan tanda-tanda deeskalasi diprediksi akan menghantam ekonomi nasional.
Pengamat Ekonomi Universitas Islam Sumatera Utara (UISU), Gunawan Benjamin, memperingatkan adanya potensi ledakan inflasi yang akan dirasakan masyarakat pada periode Mei hingga Juni 2026.
Gunawan menjelaskan bahwa rentetan dampak dari ketegangan geopolitik ini sangat kompleks, mulai dari gangguan distribusi logistik global hingga pembengkakan harga pokok produksi (HPP) di tingkat hulu.
Meskipun saat ini kenaikan harga di tingkat konsumen belum sepenuhnya terasa merata, Gunawan mencatat beban produksi yang dipikul petani dan peternak di Sumatera Utara sudah berada di level yang mengkhawatirkan.
"Kenaikan harga pupuk, plastik kemasan, pestisida, herbisida, hingga bahan bakar seperti BBM dan LPG nonsubsidi, ditambah pelemahan rupiah, telah menciptakan ancaman nyata bagi stabilitas harga pangan. Beban ini sudah dirasakan sejak pertengahan Maret dan diprediksi akan mulai dilepaskan ke pasar pada satu hingga dua bulan ke depan," kata Gunawan, Minggu (26/4/2026).
Ancaman inflasi kian nyata karena diperparah oleh faktor alam. Gunawan menyoroti adanya gangguan fenomena Godzilla El Nino yang berpotensi menekan angka produksi tanaman pangan bahkan memicu kegagalan panen secara masif.
"Perang yang dimulai pada pekan terakhir Februari ini dampaknya sudah mulai merembet ke harga plastik dan kebutuhan lainnya. Jika ditambah dengan gangguan produksi akibat El Nino, maka potensi kenaikan harga pangan harian seperti beras, hortikultura, daging ayam, dan telur ayam akan semakin besar," ucapnya menambahkan.
Guna meredam skenario terburuk, Gunawan mendesak pemerintah untuk segera melakukan langkah mitigasi sebelum harga bergejolak lebih liar di pasar umum. Ia juga mengingatkan peran krusial Satgas Pangan untuk lebih intensif memantau distribusi.
"Saya meyakini spekulan sudah membaca situasi ini. Ada risiko penimbunan atau manipulasi pasar yang dilakukan oknum agar harga bergejolak lebih cepat sebelum waktunya. Satgas Pangan harus lebih waspada di lapangan," ujar Gunawan.
Skenario inflasi tinggi ini diharapkan bisa mereda seandainya konflik di Timur Tengah berakhir damai. Namun, selama ketegangan masih tinggi, Gunawan menyarankan masyarakat dan pemerintah tetap bersiap menghadapi gejolak harga dalam waktu dekat. (hm25)
BERITA TERPOPULER






















