Januari 2026, Siantar Alami Deflasi Sebesar 0,11 Persen

Kepala Kantor Perwakilan Bank Indonesia (BI) Pematangsiantar, Ahmadi Rahman (Foto: Abdi/Mistar)
Pematangsiantar, MISTAR.ID
Kota Pematangsiantar mengalami deflasi sebesar 0,11 persen secara month to month (mtm) atau selama Januari 2026. Deflasi ini dipengaruhi mulai masuknya masa panen di sejumlah sentra produksi, sehingga pasokan komoditas pangan meningkat dan harga cenderung menurun.
Kepala Kantor Perwakilan Bank Indonesia (BI) Pematangsiantar, Ahmadi Rahman mengatakan Kota Pematangsiantar mengalami deflasi bulanan tercatat sebesar 0,11 persen (mtm). Secara tahunan inflasi masih berada di level 4,70 persen year 0n year (yoy), sementara inflasi tahun berjalan tercatat 0,11 persen year to date (ytd).
"Ini efek tingginya inflasi pada bulan Desember 2025 (base effect) turut mendorong penurunan harga pada awal tahun," ujarnya kepada Mistar, Kamis (5/2/2026).
Sedangkan komoditas yang memberikan deflasi selama Januari 2026 adalah cabai merah 0,28 persen, andaliman 0,09 persen, dan cabai rawit 0,05 persen.
"Meski demikian, sejumlah komoditas masih memberikan andil terhadap inflasi, seperti emas perhiasan 0,20 persen, tomat 0,05 persen, dan ikan dencis 0,05 persen," ucapnya.
Meski demikian, Ahmadi menjelaskan tekanan inflasi tertahan oleh kenaikan harga emas perhiasan. Ketidakpastian ekonomi global mendorong masyarakat mengalihkan investasi ke aset yang dianggap lebih aman (safe haven).
"Sehingga harga emas meningkat cukup signifikan. Selain itu, beberapa komoditas ikan juga turut memberikan andil inflasi," jelasnya.
Ahmadi mengatakan untuk menjaga stabilitas harga, BI Siantar bersama Tim Pengendalian Ilnflasi Daerah (TPID) terus memperkuat koordinasi dan sinergi lintas sektor.
"Sepanjang Januari 2026, sejumlah langkah sudah kita lakukan seperti focus group discussion (FGD) inflasi yang melibatkan Bank Indonesia, OPD, BPS, dan Bulog. FGD rutin ini menjadi wadah untuk menyusun langkah antisipatif termasuk rencana peluncuran Early Warning System (EWS), pelaksanaan pasar murah serta gerakan pangan murah (GPM) jelang Idul Fitri 2026," jelasnya.
Ahmadi menambahkan komitmen pengendalian inflasi juga melalui High Level Meeting (HLM) yang dirangkai dengan peluncuran Laporan Perekonomian Indonesia (LPI) akhir Januari 2026.
Ahmadi mengatakan deflasi diperkirakan masih berlanjut pada Februari 2026 seiring dengan meningkatnya pasokan akibat musim panen dan curah hujan yang cukup.
"Namun, tekanan inflasi berpotensi meningkat menjelang Ramadan dan Idulfitri pada triwulan I 2026," ujarnya.
Lanjutnya, penguatan koordinasi antar pemangku kepentingan serta pemanfaatan Early Warning System yang akan segera diluncurkan menjadi kunci dalam menjaga stabilitas harga. (hm25)
















