Saturday, July 18, 2026
home_banner_first
EKONOMI

IHSG Terjun ke Level 6.127, Saham Big Bank Kompak Rontok

Mistar.idJumat, 29 Mei 2026 pukul 18.16 WIB
ihsg_terjun_ke_level_6127_saham_big_bank_kompak_rontok

Ilustrasi IHSG (Foto: Istimewa/Mistar)

news_banner

Pematangsiantar, MISTAR.ID

Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) ditutup melemah pada perdagangan akhir pekan, Jumat (29/5/2026). Pelemahan tersebut membawa IHSG turun ke level 6.127 atau terkoreksi 2 poin setara 0,05 persen.

Berdasarkan data RTI, IHSG sebelumnya juga dibuka melemah di level yang sama sebelum sempat bergerak naik hingga menyentuh posisi tertinggi di level 6.230.

Namun tekanan jual yang terjadi sepanjang perdagangan membuat IHSG berbalik turun dan menyentuh level terendahnya pada posisi 6.111 saat penutupan pasar.

Nilai transaksi perdagangan saham hari ini tercatat mencapai Rp49,94 triliun dengan volume perdagangan sebanyak 46,96 miliar lembar saham dan frekuensi transaksi mencapai 2,37 juta kali.

Dari total saham yang diperdagangkan, sebanyak 271 saham menguat, 409 saham melemah, dan 137 saham bergerak stagnan.

Saham Big Bank Babak Belur

Pelemahan IHSG turut menyeret saham-saham unggulan di indeks LQ45, terutama sektor perbankan yang mengalami tekanan cukup dalam.

Saham PT Bank Tabungan Negara (Persero) Tbk atau BBTN tercatat turun 5,22 persen. Sementara PT Bank Mandiri (Persero) Tbk atau BMRI melemah 1,21 persen.

Kemudian saham PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk atau BBNI turun 3,65 persen, PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk atau BBRI anjlok 3,91 persen, serta PT Bank Central Asia Tbk atau BBCA terkoreksi hingga 4,60 persen.

Selain sektor perbankan, tekanan jual juga terjadi pada saham sektor energi dan pertambangan. Saham PT Medco Energi Internasional Tbk (MEDC) turun 3,98 persen, sedangkan PT Merdeka Copper Gold Tbk (MDKA) melemah 4,78 persen.

Analis menilai pelemahan IHSG dipengaruhi aksi profit taking investor di tengah sentimen global yang masih penuh ketidakpastian. Pelaku pasar juga masih mencermati arah kebijakan suku bunga global, pergerakan rupiah, serta arus modal asing yang keluar dari pasar domestik.

Meski demikian, investor diharapkan tetap mencermati fundamental emiten dan kondisi pasar sebelum mengambil keputusan investasi di tengah volatilitas yang masih tinggi.



BERITA TERPOPULER

BERITA PILIHAN