Friday, July 10, 2026
home_banner_first
EKONOMI

IHSG Anjlok Lagi, Investor Wait and See Kebijakan RAPBN dan Ekspor SDA

Mistar.idKamis, 21 Mei 2026 pukul 10.48 WIB
ihsg_anjlok_lagi_investor_wait_and_see_kebijakan_rapbn_dan_ekspor_sda

Ilustrasi. (Foto: CNBC Indonesia/Tri Susilo)

news_banner

Jakarta, MISTAR.ID

IHSG kembali melemah pada sesi I perdagangan Kamis (21/5/2026). Hingga pukul 09.28 WIB, IHSG tercatat turun 1,50 persen ke level 6.223.

Data perdagangan di Bursa Efek Indonesia menunjukkan sebanyak 409 saham berada di zona merah, 180 saham menguat, dan 132 saham stagnan. Nilai transaksi saham tercatat mencapai Rp4 triliun.

Pelemahan tersebut memperpanjang tren negatif IHSG yang terus berada di zona merah sejak 8 Mei 2026.

Dalam risetnya, Phintraco Sekuritas menyebut IHSG sebelumnya ditutup melemah di level 6.318,5 atau turun 0,82 persen setelah bergerak fluktuatif.

Secara teknikal, Stochastic RSI disebut berada di area oversold dan berpotensi membentuk golden cross. Namun, pelebaran histogram negatif MACD masih berlanjut.

“Sehingga diperkirakan IHSG hari ini akan bergerak variatif pada kisaran support 6.200-6.250 dan resistance pada 6.400-6.450,” tulis Phintraco Sekuritas dalam risetnya, Kamis (21/5/2026).

Phintraco Sekuritas juga menyoroti sejumlah pernyataan Presiden Prabowo Subianto dalam pidatonya di DPR terkait target defisit anggaran tahun 2027 sebesar 1,8-2,4 persen dari Produk Domestik Bruto (PDB).

Selain itu, asumsi dasar makro ekonomi dalam RAPBN 2027 mencakup target pertumbuhan ekonomi 5,8-6,5 persen, inflasi 1,5-3,5 persen, nilai tukar rupiah Rp16.800-17.500 per dolar AS, serta suku bunga SBN tenor 10 tahun di kisaran 6,5-7,3 persen.

Presiden juga mengumumkan kebijakan pemerintah yang mewajibkan ekspor komoditas sumber daya alam dilakukan melalui BUMN yang ditunjuk sebagai pengekspor tunggal. Kebijakan tersebut akan dimulai dari komoditas crude palm oil (CPO), batu bara, dan paduan besi.

“Diperkirakan investor akan cenderung wait and see terlebih dulu menyikapi asumsi RAPBN 2027 dan kebijakan ekspor SDA tersebut,” tulis Phintraco Sekuritas.

Sementara itu, Phintraco Sekuritas juga menyoroti keputusan Bank Indonesia yang menaikkan BI Rate sebesar 50 basis poin menjadi 5,25 persen dalam Rapat Dewan Gubernur Mei 2026. Kenaikan tersebut menjadi yang pertama sejak April 2024 dan dilakukan untuk menjaga stabilitas rupiah serta meredam risiko inflasi.

Namun demikian, dampak kenaikan suku bunga terhadap sektor properti dan perusahaan dengan tingkat utang tinggi dinilai masih perlu dicermati.

Di sisi lain, pertumbuhan kredit pada April 2026 tercatat meningkat menjadi 9,98 persen secara tahunan dibandingkan 9,49 persen pada Maret 2026.

Sementara itu, BRI Danareksa Sekuritas menilai pelemahan IHSG juga dipicu keluarnya sejumlah saham dari indeks MSCI Standard & Small Cap yang memicu tekanan jual asing. Selain itu, FTSE Russell disebut masih menunda peningkatan status pasar Indonesia. (hm25)



BERITA TERPOPULER

BERITA PILIHAN