Friday, July 10, 2026
home_banner_first
EKONOMI

BI Rate Naik Jadi 5,25 Persen, PHK Mengintai

Mistar.idKamis, 21 Mei 2026 pukul 09.46 WIB
bi_rate_naik_jadi_525_persen_phk_mengintai

BI Rate. (Foto: Kumparan)

news_banner

Medan, MISTAR.ID

Bank Indonesia (BI) memutuskan menaikkan suku bunga acuan (BI-Rate) sebesar 50 basis poin (bps) menjadi 5,25 persen saat Rapat Dewan Gubernur (RDG).

Kebijakan berani ini langsung direspons positif oleh pasar, di mana nilai tukar rupiah menguat instan ke kisaran Rp17.600 per dolar AS.

Meskipun intervensi moneter ini sukses meredam gejolak mata uang dalam sekejap, pengamat ekonomi Universitas Islam Sumatera Utara (UISU), Gunawan Benjamin, mengingatkan agar pelaku industri dan masyarakat tidak gegabah berasumsi bahwa ancaman Pemutusan Hubungan Kerja (PHK) massal otomatis sirna.

Gunawan menilai, langkah yang diambil Bank Indonesia murni merupakan instrumen moneter untuk menstabilkan makro ekonomi domestik yang sempat terguncang.

Namun, kebijakan ini tidak serta-merta menghapus ketidakpastian global, terutama krisis geopolitik di Timur Tengah yang menjadi motor utama pelemahan mata uang dunia.

"Langkah BI dalam meredam gejolak Rupiah hari ini langsung dirasakan secara instan dengan penguatan ke level Rp17.600. Namun, jika ditanya apakah ancaman PHK massal bisa hilang? Saya pikir ancaman tersebut tetap nyata ada," ucap Gunawan, Kamis (21/5/2026).

Menurutnya, akar masalah keuangan global saat ini bersifat eksternal. Selama konflik bersenjata di Timur Tengah masih membara, sentimen negatif sewaktu-waktu bisa kembali menghempaskan kinerja mata uang Garuda ke zona merah.

Sebelum BI menaikkan suku bunga, dunia usaha di dalam negeri termasuk di Sumatera Utara telah dihantui oleh kecemasan operasional yang tinggi.

Keterpurukan rupiah sebelumnya telah memicu gangguan ketersediaan dan lonjakan harga bahan baku plastik, kenaikan drastis harga bahan baku industri berbasis impor, dan lompatan biaya logistik internasional yang membebani harga jual produk.

Kondisi barang yang terlanjur mahal membuat produk lokal sulit dipasarkan ke konsumen yang daya belinya sedang tertekan. Tekanan berlapis inilah yang memicu sinyal bahaya PHK massal di sektor manufaktur dan ritel.

"Kekhawatiran runtuhnya sektor industri hingga memicu PHK massal belum sepenuhnya hilang saat ini. Walaupun BI terbukti mampu memulihkan kinerja rupiah hari ini, sentimen negatif ke depan masih tetap mengintai," ucap Gunawan.

Lebih lanjut, Gunawan mewanti-wanti lompatan harga minyak dunia dan gangguan rantai pasok global masih berpeluang besar terjadi di kuartal kedua ini.

Jika eskalasi militer antara blok-blok besar di Timur Tengah kembali pecah dengan skala yang lebih masif, maka Rupiah dipastikan akan kembali mengalami depresiasi.

"Akar masalah dari sisi eksternal masih terus menghantui, yang nantinya bisa saja memaksa BI untuk kembali melakukan serangkaian kebijakan ketat lainnya. Masih ada banyak ketidakpastian di pasar. Saat eskalasi perang meningkat atau bahkan meluas ke wilayah lain, pasar keuangan di tanah air tetap sangat rentan alami guncangan," ujarnya. (hm20)



BERITA TERPOPULER

BERITA PILIHAN