Monday, July 20, 2026
home_banner_first
EKONOMI

IHSG Anjlok 1,36% Saat Emas dan Rupiah Tunjukkan Ketangguhan

Mistar.idRabu, 21 Januari 2026 pukul 19.26 WIB
ihsg_anjlok_136_saat_emas_dan_rupiah_tunjukkan_ketangguhan

IHSG terjun 124,37 poin atau 1,36 persen menjadi 9.010,33 pada perdagangan di Bursa Efek Indonesia. (Foto: BEI/Mistar)

news_banner

Medan, MISTAR.ID

Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) gagal keluar dari tekanan pada sesi perdagangan Rabu (21/1/2026). Indeks komposit ini ditutup melemah signifikan sebesar 1,36 persen ke level 9.010,33, setelah sempat menyentuh titik terendahnya di angka 8.977.

Pengamat Ekonomi Universitas Islam Sumatera Utara (UISU), Gunawan Benjamin, menilai anjloknya IHSG kali ini dipicu oleh kombinasi sentimen buruk global dan kebijakan domestik yang drastis.

"IHSG tertekan hebat di tengah aksi jual masif pada emiten-emiten yang terdampak langsung oleh pencabutan izin usaha pasca-bencana besar November silam. Ini memicu koreksi tajam saat bursa saham Asia lainnya justru mulai menunjukkan perbaikan kinerja," kata Gunawan.

Sejumlah saham kelas berat (blue chip) dan emiten sektor tambang menjadi motor pelemahan indeks hari ini. Emiten seperti BUMI, UNTR, ASII, BBCA, hingga BRMS terpantau mengalami penurunan kinerja.

Tekanan jual pada saham-saham yang berkorelasi dengan penutupan perusahaan oleh pemerintah ini memberikan beban berat bagi IHSG. Padahal, bursa China mampu berbalik arah ke zona hijau meskipun dibayangi tensi perang tarif global.

Berbeda dengan pasar saham yang terpuruk, mata uang Rupiah justru menunjukkan ketangguhan. Sempat melemah hingga level Rp16.965 per Dolar AS pada perdagangan pagi, Rupiah berhasil bangkit dan ditutup menguat di level Rp16.930 per Dolar AS.

Di sisi lain, emas kian mengukuhkan posisinya sebagai aset perlindungan utama (safe haven). Harga emas dunia terus merangsek naik mendekati angka psikologis 4.900 Dolar AS.

"Harga emas saat ini ditransaksikan di kisaran 4.861 Dolar AS per troy ons atau sekitar Rp2,65 juta per gram. Meskipun secara teknikal sudah dinilai kemahalan, nyatanya emas masih terus diburu karena memburuknya tensi geopolitik dan situasi ekonomi yang kian tidak menentu," ucap Gunawan.

Emas terus memanfaatkan momentum ketidakpastian global untuk mengukir rekor tertinggi baru, sementara pasar modal domestik masih harus berjuang menghadapi dampak kebijakan pasca-bencana dan dinamika perang dagang internasional. (hm27)



BERITA TERPOPULER

BERITA PILIHAN