Friday, June 5, 2026
home_banner_first
EKONOMI

Harga BBM Nonsubsidi Naik Tajam 2026, Pertamax Turbo Tembus Rp19.400 per Liter

Mistar.idMinggu, 19 April 2026 14.30
journalist-avatar-top
AA
harga_bbm_nonsubsidi_naik_tajam_2026_pertamax_turbo_tembus_rp19400_per_liter

Kenaikan harga BBM non-subsisi. (Foto: Gemini)

news_banner

Medan, MISTAR.ID

Pemerintah pusat melalui PT Pertamina (Persero) secara resmi melakukan penyesuaian harga Bahan Bakar Minyak (BBM) nonsubsidi yang mulai diberlakukan pada Sabtu (18/4/2026).

Kebijakan ini memicu kenaikan harga yang cukup signifikan pada beberapa jenis bahan bakar berkualitas tinggi, sementara harga BBM subsidi sejauh ini dilaporkan masih bertahan pada angka lama.

Berdasarkan data perubahan harga yang diterima, kenaikan signifikan terjadi pada jenis Pertamax Turbo yang sebelumnya dibanderol Rp13.100 per liter kini naik menjadi Rp19.400 per liter.

Kenaikan tajam juga dialami oleh produk Pertamina Dex yang naik dari Rp14.500 menjadi Rp23.900 per liter, serta Dexlite yang kini menyentuh angka Rp23.600 per liter dari harga sebelumnya Rp14.200 per liter.

Meski harga BBM jenis kelas atas mengalami kenaikan yang mencolok, Pertamina melaporkan bahwa harga Pertamax masih tetap stabil di angka Rp12.300 per liter.

Kebijakan serupa juga berlaku untuk bahan bakar yang masuk dalam kategori subsidi dan kompensasi pemerintah, di mana masyarakat masih dapat menikmati harga lama di tengah fluktuasi pasar energi global.

Untuk BBM subsidi, harga masih bertahan di level lama. Pertalite tetap di harga Rp10.000 per liter, sedangkan Bio Solar juga masih berada di angka Rp6.800 per liter.

Penyesuaian harga ini diduga kuat dipengaruhi oleh dinamika harga minyak mentah dunia yang terus berfluktuasi akibat ketegangan geopolitik di sejumlah kawasan produsen minyak.

Tanggapan masyarakat terhadap kenaikan harga BBM nonsubsidi yang mulai berlaku pada Sabtu (18/4/2026) terpantau beragam, namun didominasi oleh kekhawatiran akan terjadinya efek domino pada sektor ekonomi lainnya.

Meski harga Pertalite dan Bio Solar masih stabil, lonjakan tajam pada Pertamina Dex dan Dexlite yang menembus angka Rp23.000 per liter dinilai sangat membebani pelaku usaha jasa transportasi dan logistik.

Salah seorang pengguna kendaraan bermesin diesel di Medan, Rudi, mengaku terkejut dengan kenaikan harga Dexlite yang mencapai lebih dari Rp9.000 per liter dalam satu kali penyesuaian.

Ia menilai kenaikan ini akan memaksa banyak pemilik kendaraan beralih ke bahan bakar yang lebih murah, atau menaikkan tarif jasa angkutan untuk menutupi biaya operasional yang meningkat.

“Kenaikan ini benar-benar tidak terduga dan sangat tinggi lonjakannya. Untuk kami yang bergerak di bidang jasa angkut, kenaikan Dexlite ke angka Rp23.600 ini sangat memberatkan. Kalau kami bertahan di harga lama, kami rugi di bahan bakar, tapi kalau tarif dinaikkan, kami takut pelanggan justru berkurang. Ini pilihan yang sulit bagi pelaku usaha kecil seperti kami,” kata Rudi saat ditemui di salah satu SPBU di Jalan Kapten Sumarsono, Minggu (19/4/2026).

Senada dengan itu, Maya, seorang ibu rumah tangga yang juga pengguna Pertamax Turbo, mengaku mulai mempertimbangkan untuk beralih ke Pertamax biasa yang harganya masih bertahan di Rp12.300 per liter.

Menurutnya, selisih harga yang kini mencapai lebih dari Rp7.000 per liter antara Pertamax dan Pertamax Turbo terlalu besar untuk diabaikan dalam pengaturan keuangan keluarga.

“Melihat harga Pertamax Turbo yang sekarang jadi Rp19.400, jujur saya merasa berat. Selisihnya dengan Pertamax biasa sudah terlalu jauh. Sepertinya untuk sementara saya akan pindah ke Pertamax saja sampai harga stabil kembali. Kita harus pintar-pintar mengatur keuangan, apalagi kebutuhan lain juga sedang naik semua,” ucap Maya.

Di sisi lain, masyarakat menengah ke bawah yang menggunakan Pertalite mengaku sedikit lega karena harga BBM subsidi tersebut belum mengalami kenaikan.

Namun, mereka tetap waswas jika nantinya terjadi antrean panjang di jalur subsidi akibat migrasi pengguna BBM nonsubsidi yang tidak lagi mampu membeli bahan bakar dengan harga tinggi.

Kondisi ini diharapkan dapat segera diantisipasi oleh pihak berwenang agar tidak menimbulkan masalah di lapangan.

Meskipun harga BBM subsidi belum berubah, penyesuaian pada sektor nonsubsidi ini menjadi indikator bagi pelaku usaha dan masyarakat pengguna kendaraan pribadi untuk kembali mengatur strategi konsumsi bahan bakar mereka.

BERITA TERPOPULER

BERITA PILIHAN