Meski Harga Sawit Naik Pendapatan Petani Terancam Stagnan, Ini Penjelasan Pengamat

Ilustrasi petani sawit saat melakukan pemupukan di areal perkebunan rakyat. (Foto: Gemini)
Medan, MISTAR.ID
Kabar gembira mengenai meroketnya harga Tandan Buah Segar (TBS) sawit yang menyentuh angka di atas Rp3.000 per kilogram pada bulan ini ternyata tidak serta-merta membuat petani sawit di Sumatera Utara (Sumut) bernapas lega.
Lonjakan biaya produksi, terutama harga pupuk nonsubsidi, menjadi sandungan utama bagi kesejahteraan petani di hulu.
Pengamat ekonomi dari Universitas Islam Sumatera Utara, Gunawan Benjamin, menilai meskipun harga minyak sawit mentah (CPO) dunia menguat dan rupiah melemah, keuntungan tersebut tergerus oleh beban input pertanian yang membengkak.
Saat ini, harga CPO dunia bertengger di level 4.450 ringgit per ton. Penguatan ini semakin terasa bagi eksportir karena nilai tukar rupiah yang terdepresiasi hingga di atas Rp17.100 per dolar AS.
“Semua pelaku usaha sawit dari hulu ke hilir sebenarnya menikmati kenaikan harga ditambah bonus dari pelemahan rupiah yang mendorong pendapatan eksportir. Namun, ada masalah serius yang mengganjal para petani kita saat ini, yaitu lonjakan harga pupuk,” kata Gunawan, Minggu (19/4/2026).
Gunawan mencatat kenaikan harga pupuk nonsubsidi terjadi sangat signifikan pasca pecahnya konflik antara Iran dan Amerika Serikat pada akhir Februari lalu. Komoditas pupuk yang menjadi kebutuhan vital petani sawit mengalami kenaikan harga yang bervariasi:
Pupuk urea nonsubsidi melonjak dari Rp350.000 menjadi Rp550.000 per zak atau naik 57 persen, pupuk Phonska dan Phonska Plus naik di atas 50 persen, pupuk TSP naik 26 persen, serta NPK Grower dan NPK 16.16.16 naik antara 4 persen hingga 6,25 persen.
Kenaikan biaya input produksi ini diprediksi akan menekan Nilai Tukar Petani (NTP) yang menjadi indikator daya beli masyarakat perkebunan rakyat.
Meskipun pada Maret lalu NTP perkebunan rakyat berada di level cukup tinggi, yakni 224,85, Gunawan memperkirakan indeks harga yang harus dibayar petani pada April ini akan meningkat tajam.
“Indeks harga yang diterima petani diproyeksikan hanya naik tipis atau justru mengalami koreksi terbatas bulan ini. Di sisi lain, indeks harga yang dibayar petani pasti naik signifikan karena biaya input produksi yang mahal. Hal ini berisiko menahan daya beli petani sawit kita,” ucap Gunawan.
Situasi ini menciptakan anomali di mana harga komoditas utama (sawit) sedang mahal, namun kesejahteraan petani justru terancam stagnan karena biaya pemeliharaan kebun yang tidak lagi terjangkau. (hm25)






















