Ekspor Produk Kimia Sumut Melonjak, Kopi dan Rempah Justru Menurun

Kepala BPS Sumut, Asim Saputra, saat memaparkan data ekspor-impor Sumatera Utara periode Januari-Maret 2026. (Foto: amita/mistar)
Medan, MISTAR.ID
Kinerja ekspor Sumatera Utara pada kuartal pertama tahun 2026 menunjukkan dinamika yang kontras antarsektor. Di tengah pertumbuhan pesat berbagai produk kimia, sektor pertanian justru mengalami perlambatan.
Kepala BPS Sumut, Asim Saputra, melaporkan sektor industri masih menjadi tulang punggung utama ekspor Sumatera Utara dengan kontribusi mencapai 94,68 persen. Angka tersebut jauh melampaui sektor pertanian yang hanya berkontribusi sebesar 5,31 persen.
Berdasarkan data Januari–Maret 2026, golongan berbagai produk kimia menjadi bintang ekspor dengan peningkatan terbesar, yakni naik sebesar 24,35 juta Dolar AS atau melonjak 48,05 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu.
Sebaliknya, kabar kurang menggembirakan datang dari komoditas unggulan tradisional Sumut.
“Penurunan ekspor terbesar terjadi pada golongan kopi, teh, dan rempah-rempah yang merosot sebesar 8,31 juta Dolar AS atau turun 3,23 persen,” kata Asim, Kamis (7/5/2026).
Secara total, 10 golongan barang utama (HS 2 digit) memberikan kontribusi dominan sebesar 89,71 persen terhadap total ekspor Sumatera Utara, dengan tren peningkatan tipis sebesar 1,76 persen secara tahunan.
Sumatera Utara juga masih sangat bergantung pada pasar global utama. Selama periode tiga bulan pertama tahun 2026, tiga negara tujuan ekspor terbesar Sumut yakni Tiongkok sebesar 381,46 juta Dolar AS, Amerika Serikat 151,51 juta Dolar AS, dan India 14,99 juta Dolar AS.
Di sisi lain, nilai impor Sumatera Utara pada Januari–Maret 2026 mencapai 1.274,86 juta Dolar AS. Angka ini menunjukkan penurunan sebesar 15,15 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.
Terdapat sejumlah catatan menarik pada struktur impor berdasarkan penggunaan barang. Barang konsumsi tercatat naik 14,52 persen, bahan baku penolong meningkat 1,92 persen, sedangkan barang modal turun cukup tajam hingga 28,56 persen.
Penurunan impor barang modal yang signifikan ini dinilai dapat menjadi indikasi melambatnya ekspansi investasi atau peremajaan mesin industri di wilayah Sumatera Utara pada awal tahun ini.
Untuk golongan barang impor, kenaikan tertinggi terjadi pada bahan bakar mineral dengan lonjakan mencapai 334,00 juta Dolar AS. Komoditas tersebut kini menyumbang 26,23 persen dari total impor Sumut.
“Sementara itu, penurunan nilai impor terbesar dialami oleh bahan kimia anorganik yang turun sebesar 30,83 juta Dolar AS atau 20,42 persen,” ujar Asim.
Dari sisi negara asal impor, Singapura menempati posisi penting dengan nilai mencapai 140,95 juta Dolar AS atau sebesar 11,07 persen.
























