Ekonomi Sumut Tumbuh 5,06 Persen pada Triwulan II 2026, Belanja Pemerintah Jadi Pendorong Utama

Kepala BPS Sumut, Asim Saputra. (Foto: amita/mistar)
Medan, MISTAR.ID – Perekonomian Provinsi Sumatera Utara (Sumut) tumbuh impresif pada Triwulan II 2026. Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi Sumut mencatat pertumbuhan ekonomi mencapai 5,06 persen secara tahunan (year-on-year/y-on-y).
Capaian tersebut menunjukkan perbaikan yang solid setelah pada triwulan sebelumnya pertumbuhan ekonomi Sumut masih berada di bawah 5 persen. Secara kuartalan (quarter-to-quarter/q-to-q), ekonomi Sumut tumbuh 3,04 persen, sedangkan secara kumulatif Semester I 2026 dibandingkan Semester I 2025 (cumulative-to-cumulative/c-to-c) tumbuh 5,02 persen.
Kepala BPS Sumut, Asim Saputra, mengatakan pertumbuhan ekonomi didorong oleh meningkatnya pengeluaran pemerintah dan geliat pembangunan di berbagai daerah.
"Penyumbang terbesar berasal dari belanja pemerintah, khususnya gaji ke-13 yang membuat komponen konsumsi rumah tangga naik. Selain itu, dorongan lainnya berasal dari sektor perdagangan," kata Asim, Rabu (5/8/2026).
Menurut Asim, pembangunan yang berlangsung di lebih dari 500 desa di Sumut turut meningkatkan kebutuhan material bangunan, seperti semen dan pasir, sehingga memberikan dampak positif terhadap sektor konstruksi.
Di sisi lain, program Makan Bergizi Gratis (MBG), yang infrastruktur pendukungnya telah rampung pada tahun lalu, juga memberikan multiplier effect bagi sektor pertanian dan hortikultura, terutama komoditas beras.
Dari sisi produksi, struktur perekonomian Sumut masih didominasi empat sektor utama yang menyumbang 74,84 persen terhadap total Produk Domestik Regional Bruto (PDRB).
Meski sektor pertanian menjadi kontributor terbesar, pertumbuhan tahunan tertinggi justru dicatatkan sektor penyediaan akomodasi dan makan minum yang meningkat hingga 17,43 persen.
Sementara itu, sektor Pertanian, Kehutanan, dan Perikanan berkontribusi sebesar 24,44 persen terhadap PDRB dengan pertumbuhan 1,10 persen. Disusul sektor Perdagangan Besar dan Eceran serta Reparasi Kendaraan Bermotor dan Sepeda Motor sebesar 19,99 persen dengan pertumbuhan 10,06 persen, Industri Pengolahan sebesar 18,19 persen dengan pertumbuhan 1,96 persen, serta sektor Konstruksi sebesar 12,21 persen dengan pertumbuhan 6,78 persen.
Dari sisi pengeluaran, konsumsi rumah tangga masih menjadi motor utama perekonomian Sumut dengan kontribusi 50,54 persen terhadap PDRB. Selanjutnya, ekspor barang dan jasa menyumbang 41,24 persen, sedangkan Pembentukan Modal Tetap Bruto (PMTB) atau investasi berkontribusi 27,10 persen.
Namun, jika dilihat dari laju pertumbuhan tahunan, Pengeluaran Konsumsi Pemerintah (PK-P) mencatat pertumbuhan tertinggi, yakni 14,17 persen, seiring pencairan gaji ke-13 bagi aparatur sipil negara (ASN).
Capaian tersebut turut mengukuhkan posisi Sumut sebagai salah satu kekuatan ekonomi terbesar di kawasan barat Indonesia.
Secara spasial, Sumut menjadi penyumbang terbesar perekonomian Pulau Sumatera dengan kontribusi 23,37 persen. Posisi tersebut diikuti Provinsi Riau sebesar 23,33 persen dan Sumatera Selatan sebesar 13,64 persen.
Meski memiliki PDRB terbesar di Sumatera, pertumbuhan ekonomi Sumut sebesar 5,06 persen menempatkannya di peringkat kelima dari 10 provinsi di Pulau Sumatera.
Adapun pertumbuhan ekonomi tertinggi pada Triwulan II 2026 di Pulau Sumatera dicatat Provinsi Kepulauan Riau sebesar 6,99 persen, disusul Lampung 5,29 persen, Sumatera Selatan 5,20 persen, dan Bengkulu 5,11 persen.
PREVIOUS ARTICLE
Nilai Tukar Rupiah: Pengertian, Cara Menghitung, Kurs Hari Ini, dan Dampaknya bagi Ekonomi























