Monday, June 29, 2026
home_banner_first
EKONOMI

Efek Kenaikan Pertamax, Harga Bahan Bangunan Naik, Sumut Diproyeksikan Inflasi pada Juni

Mistar.idSenin, 29 Juni 2026 pukul 19.19 WIB
efek_kenaikan_pertamax_harga_bahan_bangunan_naik_sumut_diproyeksikan_inflasi_pada_juni

Ilustrasi dampak kenaikan harga bahan bakar minyak terhadap harga berbagai kebutuhan masyarakat. (Foto: Gemini AI/Mistar)

news_banner

Medan, MISTAR.ID – Kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) jenis Pertamax beberapa waktu lalu mulai memicu efek domino terhadap harga sejumlah komoditas di Sumatera Utara (Sumut).

Selain harga kebutuhan pokok yang terus merangkak naik, harga bahan bangunan juga mengalami kenaikan. Kondisi tersebut membuat Sumut diproyeksikan mencatat inflasi pada Juni 2026.

Pengamat Ekonomi Universitas Islam Sumatera Utara (UISU), Gunawan Benjamin, mengatakan sejumlah material bangunan seperti besi, pasir, semen, dan cat mengalami kenaikan harga.

Sementara itu, untuk kebutuhan pokok, harga cabai merah secara bulanan naik 20 persen, bawang putih 18 persen, cabai rawit 1,6 persen, gula pasir 0,6 persen, dan daging sapi 0,3 persen. Kenaikan juga terjadi pada sejumlah kebutuhan rumah tangga, seperti air minum kemasan, emas perhiasan, pasta gigi, hingga popok bayi.

"Namun ada beberapa komoditas yang mengalami penurunan harga, seperti daging ayam turun 3,9 persen, telur ayam 1,7 persen, dan bawang merah 2,3 persen," katanya, Senin (29/6/2026).

Menurut Gunawan, turunnya harga ayam dan telur dipicu melemahnya permintaan pasar yang berdampak pada kerugian peternak. Sementara itu, harga bawang merah turun karena pasokan di pasar melimpah.

"Dengan akumulasi pergerakan harga tersebut, inflasi di Sumut tidak dapat dihindari. Sumut diproyeksikan mengalami inflasi minimal 0,54 persen pada Juni secara bulanan (month to month/m-to-m)," ujarnya.

Ia menilai meningkatnya inflasi di Sumut juga berkaitan dengan kebijakan pemerintah yang menyesuaikan harga Pertamax.

Menurutnya, dampak kenaikan BBM terhadap harga barang memang tidak terjadi secara langsung, tetapi melalui peningkatan biaya operasional perusahaan yang pada akhirnya mendorong produsen menaikkan harga pokok produksi.

"Tantangan mengendalikan inflasi tahun ini cukup berat. Kombinasi gejolak geopolitik global yang memicu pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar AS serta dampak kenaikan harga BBM diperkirakan akan memicu kenaikan harga komoditas lainnya," katanya.

Gunawan menambahkan, apabila kondisi tersebut terus berlanjut, daya beli masyarakat berpotensi semakin melemah. Selain itu, laju inflasi masih berpeluang meningkat akibat dampak El Nino serta multiplier effect konflik di Selat Hormuz yang turut memengaruhi pelemahan rupiah dan kenaikan biaya bahan baku produksi.



BERITA TERPOPULER

BERITA PILIHAN