Dampak Bencana, Sumut Terancam Inflasi hingga 1 Persen Jelang Penghujung 2025

Pengamat Ekonomi UISU, Gunawan Benjamin. (Foto: istimewa/mistar)
Medan, MISTAR.ID
Rangkaian bencana alam yang melanda Sumatera Utara (Sumut), Aceh, dan Sumatera Barat memicu anomali ekonomi yang serius. Pengamat Ekonomi Universitas Islam Sumatera Utara (UISU), Gunawan Benjamin memprediksi laju inflasi di Sumut pada Desember 2025 berpeluang melonjak di atas 0,4 persen, bahkan menembus skenario terburuk di angka 0,7 persen hingga 1 persen secara bulanan (month-to-month).
Padahal, menurut Gunawan, jika bencana tidak terjadi, Sumatera Utara memiliki peluang besar untuk mencetak deflasi di rentang 0,1 persen hingga 0,17 persen pada akhir tahun ini.
"Masyarakat Sumut mendapatkan dua pukulan ekonomi sekaligus. Pertama, bencana memporak-porandakan aset dan menekan daya beli. Kedua, mereka justru harus membayar harga barang yang lebih mahal karena bencana itu sendiri," kata Gunawan, Senin (29/12/2025).
Berdasarkan hasil observasi, Gunawan mencatat terjadi ketidakseimbangan harga yang sangat tajam antarwilayah di Sumut. Di Kota Sibolga dan Gunungsitoli, harga cabai merah sempat meroket tajam melampaui Rp100.000 bahkan menyentuh Rp200.000 per kilogram.
Beberapa komoditas pangan utama lainnya juga mencatatkan kenaikan signifikan, seperti cabe rawit yang naik rata-rata hingga 130 persen, bawang merah meningkat sekitar 8,6 persen, daging ayam naik sekitar 7,2 persen, telur ayam mengalami kenaikan 2,2 persen, dan beras terpantun naik rata-rata Rp500 per kg.
Gunawan menegaskan inflasi kali ini murni disebabkan faktor persediaan (supply) yang memburuk, bukan karena tingginya permintaan pasar. Fenomena ini diperkuat dengan fakta terjadinya penurunan omzet yang signifikan di Pasar Induk Tuntungan.
"Inflasi lebih dikarenakan sisi persediaan yang benar-benar memburuk. Ada penundaan penurunan harga cabai merah, distribusi cabai rawit dari Aceh yang terputus, hingga kendala pasokan bawang merah dan pakan jagung yang membuat pengendalian stok ayam tidak maksimal," ucapnya.
Situasi ini menciptakan kerumitan dalam pencacahan data Desember karena adanya gap harga yang sangat lebar antarwilayah. Ketidakpastian distribusi akibat kerusakan infrastruktur pascabencana menjadi tantangan berat dalam upaya pengendalian harga di Sumut hingga awal tahun depan.
BERITA TERPOPULER


















