Thursday, June 4, 2026
home_banner_first
EKONOMI

Banjir Aceh Tamiang dan Langkat Ancam Produksi CPO Turun 40 Persen

Mistar.idRabu, 17 Desember 2025 17.52
journalist-avatar-top
AA
banjir_aceh_tamiang_dan_langkat_ancam_produksi_cpo_turun_40_persen

Ilustrasi, masyarakat memuat sawit ke mobil pick up. (Foto: Sawit Fest 2021/Diyon Novri/Mistar)

news_banner

Medan, MISTAR.ID

Bencana banjir yang melanda sejumlah wilayah, terutama Aceh Tamiang, Langkat, dan Tapanuli, telah menyebabkan banyak lahan sawit terendam dan memicu penurunan signifikan pada produksi minyak kelapa sawit mentah (CPO). Dampak terburuk terlihat di Langkat dan Aceh Tamiang, di mana sejumlah Pabrik Kelapa Sawit (PKS) terpaksa menghentikan operasional.

Pengamat Ekonomi Universitas Islam Sumatera Utara, Gunawan Benjamin, melaporkan bahwa beberapa perusahaan menutup PKS mereka paling lama sekitar dua minggu pasca-bencana besar pada 25 hingga 27 November.

"Sejumlah PKS yang lahan sawitnya dominan berada di wilayah banjir (Langkat dan Aceh Tamiang) diproyeksikan akan mengalami penurunan produktivitas CPO paling buruk sebanyak 40 persen di bulan Desember secara bulanan," kata Gunawan, Rabu (17/12/2025).

Pengolahan Tandan Buah Segar (TBS) di PKS tersebut turun tajam, yang akan menyulitkan industri pengolahan hilir (refinery) karena kesulitan bahan baku.

Gunawan mencontohkan, PKS berkapasitas 45 ton yang biasanya membutuhkan lebih dari 12.000 ton TBS kini diproyeksikan hanya akan mengolah di bawah 10.000 ton, bahkan ada yang hanya mampu mengolah 7.500 ton saja di bulan ini.

Meskipun produksi CPO turun, dampaknya terhadap harga minyak goreng tidak signifikan karena harga minyak kedelai (pesaing kelapa sawit) mengalami penurunan tajam dan permintaan untuk produk turunan ekspor sedikit melemah dibandingkan tahun sebelumnya.

Gunawan memperingatkan bahwa masalah yang lebih serius adalah dampak jangka panjang pada kualitas buah sawit, yang akan memicu penurunan rendemen CPO.

"Dampak banjir ini akan memicu terjadinya penurunan rendemen CPO ke depan. Jadi masalah selanjutnya yang lebih panjang adalah rasio CPO dari TBS yang bisa turun di bawah 15 persen setelah banjir usai," ucapnya.

Sebelum bencana, rendemen dapat dipertahankan di kisaran 19 persen. Namun, lahan sawit yang dilanda banjir di Langkat dan Aceh Tamiang berpeluang turun di bawah 15 persen.

Untuk meminimalisir penurunan kualitas ini, Gunawan menyarankan agar petani melakukan pemupukan dan perawatan yang lebih intensif. Jika dibiarkan, penurunan kualitas buah sawit dan rendemen dapat berlangsung berkepanjangan, setidaknya hingga satu tahun ke depan. (hm27)

BERITA TERPOPULER

BERITA PILIHAN