Friday, June 5, 2026
home_banner_first
EKONOMI

Produksi CPO Sumut Turun, GAPKI Ungkap Penyebab Utama dan Strategi Pemulihannya

Mistar.idJumat, 12 Desember 2025 14.43
journalist-avatar-top
AA
produksi_cpo_sumut_turun_gapki_ungkap_penyebab_utama_dan_strategi_pemulihannya

Seorang petani memanen kelapa sawit di kebun kemitraan PT Sukses Karya Mandiri di Desa Laman Baru, Kabupaten Sukamara, Kalimantan Tengah. (foto:Antara/Shofi Ayudiana/Mistar)

news_banner

Medan, MISTAR.ID

Sektor kelapa sawit di Sumatera Utara (Sumut), yang merupakan provinsi dengan areal sawit terluas kedua di Indonesia setelah Riau, menghadapi tantangan penurunan produksi CPO. Hal ini bukan disebabkan oleh pengelolaan yang buruk, melainkan adanya program peremajaan tanaman yang masif, baik oleh perusahaan maupun petani rakyat.

Sekretaris Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (GAPKI) Sumut, Syahril Pane, menyampaikan bahwa sawit adalah anugerah Tuhan di Sumatera Utara dan merupakan komoditas strategis nasional. Areal kelapa sawit di Sumut mencapai 2,78 juta hektare, di mana 37 persen dikelola oleh perkebunan rakyat dan 63 persen oleh perkebunan besar.

Menanggapi penurunan produksi CPO di Sumut, Syahril Pane menjelaskan bahwa hal itu disebabkan oleh aktivitas replanting (peremajaan).

“CPO kita produksinya menurun terus. Hal ini bukan disebabkan oleh teknon atau pengelolaan, tetapi karena adanya replanting. Beberapa perusahaan melakukan replanting. Demikian juga ada perkebunan rakyat yang banyak melakukan peremajaan,” kata Syahril, Jumat (12/12/2025).

Ia menambahkan bahwa banyak perkebunan rakyat yang tanamannya sudah tua, berumur lebih dari 25 tahun, dan tidak terawat, sehingga peremajaan sawit rakyat (PSR) menjadi strategi kunci untuk meningkatkan produksi yang saat ini masih menghasilkan 1,2 hingga 1,5 ton per hektare.

Untuk meningkatkan produksi CPO Sumut, Syahril Pane menyoroti sejumlah strategi utama, yaitu pemerintah memberikan dana hibah sebesar Rp60 juta per hektare kepada petani untuk peremajaan.

Selain itu, dibutuhkan percepatan legalitas dan pemetaan untuk mengatasi minimnya kesadaran terhadap Kawasan Strategis Nasional (KSN). Juga pengembangan program tumpang sari (jagung dan padi) selama masa tunggu peremajaan untuk meningkatkan pendapatan petani, serta transformasi kelembagaan petani untuk mengatur manajemen peremajaan yang lebih baik.

Ia juga mendorong pengolahan CPO menjadi produk hilir bernilai tambah, mengingat persentase hilirisasi nasional baru mencapai 23 persen, jauh di bawah Malaysia dan China yang memiliki lebih dari 100 turunan produk.

Penciptaan klaster industri baru dengan mendorong investasi pabrik pengolahan di dekat sentra produksi turut menjadi fokus, sebagaimana diupayakan melalui Kawasan Ekonomi Khusus (KEK).

Inovasi pada bioenergi—seperti biodiesel, biogas, dan biomassa—juga perlu dikembangkan, disertai peningkatan kerja sama riset antara industri, akademisi, dan pemerintah.

“Sawit adalah komoditas strategis yang menyerap tenaga kerja luar biasa di perkebunan, baik secara langsung maupun tidak langsung, serta menjadi penyumbang nilai ekspor terbesar di Sumut,” ucapnya. (hm27)

BERITA TERPOPULER

BERITA PILIHAN