Friday, June 5, 2026
home_banner_first
EDUKASI

Sindrom Pascaliburan Bikin Murung dan Sulit Kembali ke Rutinitas, Ini Kata Psikolog

Mistar.idSabtu, 10 Januari 2026 14.50
AN
SH
sindrom_pascaliburan_bikin_murung_dan_sulit_kembali_ke_rutinitas_ini_kata_psikolog

Ilustrasi post-holiday blues. (Foto: Istimewa/Mistar)

news_banner

Medan, MISTAR.ID

Guru Besar Tetap Bidang Psikologi Klinis Fakultas Psikologi Universitas Sumatera Utara (USU), Prof. Raras Sutatminingsih, menyebut post-holiday blues atau sindrom pascaliburan merupakan fenomena umum yang dapat dialami individu, termasuk anak-anak, setelah masa liburan panjang berakhir.

“Post-holiday blues merupakan fenomena umum di mana individu mengalami perasaan sedih, lesu, cemas, atau emosi negatif lainnya setelah periode liburan atau waktu senggang berakhir dan beralih ke kondisi rutin,” ujarnya kepada Mistar, Sabtu (10/1/2026).

Kondisi tersebut, lanjutnya, tidak hanya berdampak secara emosional, tetapi juga memengaruhi kondisi fisik, kognitif, dan perilaku individu. Ia menjelaskan bahwa post-holiday blues muncul sebagai efek dari kemampuan individu yang kurang adaptif dalam melakukan regulasi emosi.

Selama masa liburan, individu umumnya berada dalam suasana emosi positif seperti senang, bahagia, rileks, dan minim stres karena terbebas dari tuntutan, kewajiban, serta tekanan yang biasanya memicu stres.

Namun, ketika liburan berakhir dan individu kembali ke situasi rutin, berbagai tuntutan dan kewajiban kembali muncul. Kondisi tersebut dapat menimbulkan emosi negatif seperti tidak senang, stres, cemas, hingga bosan. Dalam situasi ini, banyak individu mengalami kesulitan dalam meregulasi emosinya.

“Perubahan emosi yang drastis ini menyebabkan banyak orang mengalami ketidakseimbangan emosi yang dapat memengaruhi kondisi fisik, kognitif, dan perilaku sehingga menjadi kurang konstruktif,” katanya.

Secara fisik, individu dapat mengalami kelelahan, mengantuk, dan malas bergerak. Sementara dari sisi kognitif, dosen USU itu menyebut kondisi ini ditandai dengan kurangnya konsentrasi dan fokus, sulit menangkap informasi, serta mudah lupa.

Dari aspek perilaku, individu cenderung kehilangan semangat, menjadi malas, dan menunjukkan perilaku yang kurang konstruktif dalam menyelesaikan pekerjaan.

Ia menegaskan, apabila kondisi tersebut tidak teratasi, maka fungsi psikososial individu, baik dalam keluarga, pekerjaan, pendidikan, maupun kehidupan sosial, dapat terganggu.

Untuk menghadapi kondisi post-holiday blues, Raras menyampaikan sejumlah langkah yang dapat dilakukan, antara lain memandang situasi rutin secara positif, menyediakan waktu istirahat yang cukup, serta melakukan relaksasi.

Selain itu, individu juga dianjurkan membayangkan keberhasilan yang pernah dicapai saat beraktivitas rutin, mencontoh perilaku sukses orang lain sebagai sumber inspirasi dan motivasi, serta membuat rincian tugas dan target yang harus dicapai.

Langkah lainnya adalah melakukan pemecahan masalah secara konstruktif dalam menghadapi tantangan setelah liburan, serta memperoleh dukungan sosial dari keluarga dan teman. (hm25)

BERITA TERPOPULER

BERITA PILIHAN