Cegah Hoaks Sejak Dini, Anak Homeschooling Didorong Lebih Kritis di Ruang Digital

Ilustrasi literasi digital bagi anak-anak. (foto: Gemini/mistar)
Medan, MISTAR.ID
Maraknya penyebaran informasi palsu (hoaks) di ruang digital mendorong Homeschooling HSPG Medan untuk memperkuat literasi digital bagi peserta didiknya. Anak-anak didorong agar lebih kritis, berpikir sebelum menyebarkan informasi, serta mampu mengontrol aktivitas digital sesuai usia mereka.
Pimpinan HSPG Medan, Cikita Veronika, mengatakan literasi digital menjadi kebutuhan penting bagi anak-anak, termasuk peserta didik homeschooling, di tengah derasnya arus informasi yang tidak selalu benar.
“Harapan kita anak-anak bisa lebih melek lagi tentang literasi digital, apalagi sekarang ini banyak sekali berita-berita hoaks yang tersebar. Anak-anak juga harus lebih berpikir dulu sebelum menyebarkan,” ujar Cikita saat ditemui Mistar di Jalan Sei Batang Serangan, Medan Petisah, Jumat (9/1/2026).
Ia menilai kegiatan literasi digital tidak cukup dilakukan sekali, tetapi perlu berkelanjutan agar ada pemantauan terhadap perkembangan pemahaman anak.
“Ke depan, kegiatan-kegiatan literasi digital memang perlu terus diadakan supaya ada monitoring dan anak-anak tetap update dengan literasi digitalnya,” katanya.
Cikita menjelaskan peserta didik HSPG Medan memiliki latar dan program akademik yang beragam, termasuk pembelajaran inklusif serta pendampingan psikologi.
Baca Juga: Plt Kadis Kominfostan Deli Serdang Dukung Literasi Digital Anak untuk Cegah Hoaks dan Cyberbullying
Kegiatan literasi digital sendiri merupakan bagian dari program divisi psikologi, sehingga anak-anak tidak hanya menerima materi akademik, tetapi juga pendampingan nonakademik.
“Anak-anak bukan hanya belajar mata pelajaran sehari-hari, tetapi juga mendapat pendampingan psikologi,” tuturnya.
Sementara itu, Staf Psikologi HSPG Medan, Rhyzoma Arry Shauma, mengatakan kolaborasi dengan Dinas Komunikasi dan Informatika (Diskominfo) Kota Medan dilakukan karena masih banyak anak yang belum mampu mengontrol aktivitas digital mereka.
“Kita melihat anak-anak, khususnya pelajar di HSPG, belum bisa mengontrol tontonan atau kegiatan digital mereka,” ujarnya.
Menurutnya, penyampaian literasi digital yang disesuaikan dengan usia anak diharapkan dapat membantu mereka mengelola penggunaan teknologi secara lebih bijak. “Harapannya anak-anak bisa mengontrol diri untuk melakukan kegiatan digital dengan baik dan sesuai dengan umurnya,” ucapnya.





















