Merancang Mimpi Sejak SMP, Yolanda Trinita Sitohang Bidik SNBP

Yolanda saat mengikuti berbagai perlombaan dan mendapatkan juara. (foto: istimewa/mistar)
Medan, MISTAR.ID
Bagi Yolanda Trinita Sitohang, masuk daftar siswa eligible Seleksi Nasional Berdasarkan Prestasi (SNBP) bukanlah hasil kerja instan di kelas XII. Proses itu sudah ia rancang sejak duduk di bangku SMP. Dimulai dari adaptasinya dengan lingkungan sekolah, konsistensi dalam meraih prestasi, hingga keberanian dalam memilih satu jalan utama menuju universitas impiannya.
Siswi kelas XII-3 SMA Negeri 1 Medan ini merupakan anak bungsu dari tiga bersaudara. Awalnya, SMAN 1 Medan bukan sekolah yang ia tuju. Siswi 17 tahun itu mengaku lebih ingin bersekolah di Yayasan Soposurung, namun orang tuanya tidak mengizinkan karena sistem yang mengharuskan siswa tinggal di asrama dan pertimbangan ia sebagai anak perempuan sekaligus anak bungsu. Akhirnya, ia mencoba mendaftar ke SMAN 1 Medan dan dinyatakan lulus.
Memasuki kelas X, Yolanda tidak langsung memasang target akademik tinggi. Ia memilih fokus beradaptasi dengan lingkungan belajar. “Waktu kelas 10 itu saya belum ada ambisi untuk masuk tiga besar. Saya cuma pengen adaptasi dulu dan ngerasa cocok nggak sama sistem belajarnya,” ujarnya mengenang masa-masa awal masuk sekolah dulu, Rabu (4/2/2026).
Ternyata nilai yang diperolehnya tak main-main. Pada semester pertama kelas X, Yolanda justru meraih peringkat pertama, prestasi yang terus berlanjut hingga kelas 12 dengan konsisten berada di tiga besar. Konsistensi itu mengantarkannya masuk daftar siswa eligible SNBP peringkat keempat di sekolahnya.
Meski kuat secara akademik, Yolanda mengaku tidak membatasi diri hanya pada nilai rapor. Ia aktif di OSIS dan terlibat dalam berbagai kegiatan di luar sekolah, termasuk bergabung dengan Forum Perlindungan Anak.
Ia juga mengikuti persiapan Olimpiade Sains Nasional hingga tingkat kota, serta Lomba Cerdas Cermat Empat Pilar MPR RI tahun 2024 yang berhasil mengantarkan SMAN 1 Medan menjadi juara pertama.
Selain itu, Yolanda turut mengikuti berbagai kegiatan berbasis kerja tim dan analisis, seperti infografis dan studi kasus yang diselenggarakan oleh Universitas Indonesia dan Institut Teknologi Bandung seperti yang sedang ia ikuti saat ini.
Di balik sederet prestasi tersebut, Yolanda menyebut banyak teman-temannya yang mengira dirinya mengambil les tambahan di luar sekolah. “Banyak yang kira saya les dari kelas 10 sampai 11. Padahal sebenarnya saya nggak ikut bimbingan sama sekali di luar sekolah,” katanya.
Ia baru mengikuti bimbingan belajar di kelas XII setelah adanya Tes Kompetensi Akademik (TKA). Saat mengetahui namanya masuk dalam daftar eligible peringkat empat, Yolanda mengaku merasakan kebahagiaan sekaligus tanggung jawab yang bertambah. Ia menyebut posisi sepuluh besar memberi ruang aman untuk memilih jurusan sesuai passion tanpa tekanan.
“Kalau misalnya ditanya, jadi beban juga. Karena masa top five tapi nanti gak bisa lolos di universitas yang ditembak. Minimal ya seperti kakak-kakakan kemarin itu semuanya top ten-nya pada oneshoot semua. Jadi dari pelajaran tersebut, berarti saya juga harus seperti itu, jadi ada mandat juga,” ucapnya.

Yolanda Trinita Sitohang. (foto: susan/mistar)
Baca Juga: 171 Siswa SMAN 1 Medan Masuk Daftar Eligible SNBP, Sekolah Tekankan Sertifikat dan Strategi Jurusan
Di tengah padatnya jadwal belajar dan organisasi, ia tak menampik rasa jenuh juga tetap datang. Yolanda menyikapinya dengan cara unik. Ia kerap mengisi energi dengan menjadi MC di berbagai kegiatan, termasuk di organisasi Kristen SMAN 1 Medan dan acara lainnya di sekolah.
Dalam hal belajar, ia menekankan pentingnya membangun mood. “Saya biasanya niat dulu, siapin makanan yang saya suka seperti cokelat, buah atau es krim. Kalau mood udah kebangun, baru belajar,” tuturnya.
Tantangan terbesar baginya muncul saat membandingkan diri dengan teman-teman yang lebih unggul di bidang tertentu, khususnya fisika. Namun, hal itu tidak membuatnya mundur. Yolanda memilih menjadikannya sebagai motivasi dan belajar langsung dari teman yang lebih menguasai materi tersebut.
Sebagai siswa eligible, Yolanda berharap dapat lolos satu kali melalui SNBP dan melanjutkan tradisi prestasi sekolah. Ia juga berharap kelak bisa menjadi mahasiswa yang menjaga IPK dan mengharumkan nama almamater.
Setelah berdiskusi dengan orang tua, Yolanda menetapkan satu pilihan, yaitu Teknik Kimia Universitas Indonesia. Keputusan ini diambil dengan strategi one choice demi memperbesar peluang.
Meski sejak kecil bercita-cita menjadi dokter forensik, ia memilih jalur teknik karena mempertimbangkan proses pendidikan yang lebih panjang di bidang medis. Ia berharap setelah lulus nanti dapat mengambil peluang kerja di salah satu perusahaan besar di Indonesia.
“Saya optimis, menurut saya ini rezeki yang terbaik. Saya udah doain pilihan saya, dan kalau pun nanti nggak dapet, itu bukan hal paling menyedihkan karena saya udah siapin plan B di UTBK,” ucapnya.
BERITA TERPOPULER



















