Masjid Pintu Seribu di Tangerang, Wisata Religi dengan Arsitektur Unik dan Sarat Kisah

Masjid Pintu Seribu di Tangerang, Banten. (foto: antara/Mistar)
Jakarta, MISTAR.ID
Di sudut Kota Tangerang, Banten, berdiri sebuah masjid dengan arsitektur yang tidak biasa. Rumah ibadah tersebut dikenal dengan sebutan Masjid Pintu Seribu atau Masjid Sewu, yang menjadi salah satu destinasi wisata religi menarik di daerah tersebut.
Julukan itu muncul karena bangunan masjid memiliki banyak pintu dan lorong yang saling terhubung. Keunikannya sering dibandingkan dengan Lawang Sewu di Semarang, yang sama-sama dikenal karena banyaknya pintu serta cerita yang berkembang di masyarakat.
Masjid ini memiliki nama resmi Masjid Agung Nurul Yakin dan berada di Kampung Bayur, Priuk Jaya, Kota Tangerang. Lokasinya sekitar 12 kilometer dari pusat kota dan dapat dijangkau dengan kendaraan roda dua maupun roda empat.
Berbeda dengan masjid pada umumnya yang memiliki ruang utama terbuka, bagian dalam Masjid Pintu Seribu dipenuhi berbagai ruangan kecil dan lorong dengan pintu yang jumlahnya sangat banyak.
Bentuk bangunan yang unik ini sempat menimbulkan berbagai spekulasi di masyarakat. Pada masa awal pembangunannya, masjid ini bahkan pernah dituding sebagai tempat penyebaran aliran sesat.
Di balik bentuknya yang tidak lazim, terdapat makna religius yang mendalam. Pengurus Masjid Agung Nurul Yakin, Mahpudin, menjelaskan bahwa konsep “seribu pintu” terinspirasi dari Asmaul Husna, yaitu 99 nama indah Allah SWT.
Menurutnya, angka 999 yang tertera pada beberapa tiang masjid dilengkapi dengan simbol pintu yang sangat banyak hingga sulit dihitung, sehingga masyarakat kemudian menyebutnya sebagai Masjid Seribu Pintu.
Keunikan bentuk masjid juga dipengaruhi oleh proses pembangunannya yang dilakukan secara bertahap tanpa rancangan gambar yang pasti. Bangunan terus diperluas sedikit demi sedikit dengan menambah ruangan baru seiring waktu.
Masjid ini didirikan oleh seorang ulama Banten, Syekh Ami Al Faqir, di atas lahan milik pribadinya. Dahulu kawasan tersebut hanyalah area persawahan dan lahan kosong yang sering tergenang air.
Seiring berdirinya masjid, permukiman warga mulai berkembang di sekitarnya.
Pembangunan Masjid Agung Nurul Yakin berasal dari sumbangan para peziarah, sedekah masyarakat, serta dana pribadi Syekh Ami Al Faqir. Hingga kini, bangunan masjid masih terus dikembangkan dan belum sepenuhnya rampung.
Syekh Ami Al Faqir wafat pada tahun 2016, tepatnya pada bulan Ramadan. Makamnya berada di area kompleks masjid, tidak jauh dari ruang salat laki-laki. Kini banyak jamaah yang datang untuk berziarah ke makam pendiri masjid tersebut.
Di area luar masjid juga terdapat sebuah ruangan yang dikenal sebagai Makam Tasbih. Menurut cerita yang berkembang, di dalam ruangan itu terdapat 99 tasbih berukuran besar yang bertuliskan Asmaul Husna.
Ruangan tersebut tidak dibuka setiap hari. Pengunjung biasanya hanya dapat melihat dari luar, karena menurut amanat Syekh Ami Al Faqir, tempat tersebut hanya dibuka pada peringatan Isra Mikraj.
Baca Juga: Newsroom: Jejak Dakwah Ulama Mesir di Langkat, Masjid Kayu Bingai Menembus Seperempat Milenium
Selain ruang salat, masjid ini juga memiliki beberapa ruangan lain, termasuk ruang khusus bagi musafir yang ingin beristirahat atau beriktikaf. Ruangan berukuran sekitar 4x4 meter tersebut dilengkapi fasilitas sederhana seperti kamar mandi dan dapur yang dapat digunakan oleh para tamu.
Di bagian atas Makam Tasbih terdapat aula besar yang sering digunakan untuk kegiatan keagamaan maupun peringatan hari besar Islam. Pada momen tertentu, santri dari berbagai daerah juga berkumpul di tempat tersebut.
Bagi pengunjung yang datang, pihak pengelola masjid menetapkan sejumlah aturan. Di pintu masuk tersedia papan tata tertib, termasuk ketentuan terkait pengambilan foto di beberapa area yang memerlukan izin petugas.
Pengunjung juga diminta mengisi buku tamu dan biasanya memberikan sumbangan sukarela melalui kotak amal sebelum memasuki area masjid untuk beribadah maupun berziarah.
BERITA TERPOPULER
























