Friday, June 5, 2026
home_banner_first
NEWS ROOM

Newsroom: Jejak Dakwah Ulama Mesir di Langkat, Masjid Kayu Bingai Menembus Seperempat Milenium

Mistar.idKamis, 26 Februari 2026 18.20
WA
BD
newsroom_jejak_dakwah_ulama_mesir_di_langkat_masjid_kayu_bingai_menembus_seperempat_milenium

Newsroom: Jejak Dakwah Ulama Mesir di Langkat, Masjid Kayu Bingai Menembus Seperempat Milenium

Newsroom: Jejak Dakwah Ulama Mesir di Langkat, Masjid Kayu Bingai Menembus Seperempat Milenium

news_banner

Langkat, MISTAR.ID

Jejak sejarah Islam di Tanah Langkat tak hanya tersimpan dalam lembaran catatan lama. Ia berdiri nyata, menyatu dengan alam, di tepi aliran Sungai Bingai, Kecamatan Wampu.

Di tengah rindangnya pepohonan dan gemericik air sungai, sebuah bangunan kayu sederhana tetap kokoh bertahan melawan waktu.

Warga setempat mengenalnya sebagai Masjid Kayu Bingai. Meski secara resmi telah diberi nama Masjid Jaya Ar-Rahman Bingai, sebutan Masjid Kayu tetap hidup di ingatan masyarakat dari generasi ke generasi.

Berdasarkan catatan Pemerintah Kabupaten Langkat, masjid ini diperkirakan telah berdiri sejak tahun 1775. Usianya kini telah melewati seperempat milenium, tepatnya 251 tahun.

Ia diyakini sebagai masjid tertua di Kabupaten Langkat. Pada tahun 2025 lalu, Pemerintah Kabupaten Langkat bahkan telah melaksanakan haul ke-250 sebagai penanda perjalanan panjang sejarahnya.

Bangunannya berbentuk rumah panggung dan terbuat dari kayu pilihan. Arsitekturnya menyesuaikan dengan kondisi masyarakat pesisir pada masa itu, ketika sungai menjadi urat nadi kehidupan sekaligus jalur penyebaran peradaban.

Dalam catatan sejarah lokal, masjid ini didirikan oleh dua ulama perantau, Syekh Baka dan Syekh Zabar, yang disebut berasal dari Mesir. Datang sebagai pedagang, keduanya juga membawa misi dakwah, menanamkan nilai-nilai Islam di setiap tempat yang disinggahi.

Di tepi sungai inilah mereka membangun sebuah pesanggrahan. Dari bangunan sederhana tersebut, syiar Islam tumbuh dan berkembang. Seiring waktu, tempat itu difungsikan sebagai masjid dan terus digunakan hingga hari ini.

Di dalamnya, tiang-tiang kayu besar menjulang dari lantai hingga bubungan atap. Struktur aslinya tetap terjaga. Tidak ada perubahan bentuk signifikan, hanya sentuhan rehabilitasi untuk memperkuat bangunan.

Masjid ini bukan sekadar tempat salat. Ia adalah saksi perjalanan dakwah, pertemuan budaya, dan tumbuhnya peradaban Islam di Langkat.

Kini, pemerintah daerah berencana menetapkannya sebagai cagar budaya sekaligus destinasi wisata religi.

Namun lebih dari itu, Masjid Kayu Bingai menjadi pengingat bahwa sejarah tidak selalu hadir dalam bangunan megah. Kadang, ia hidup dalam kesederhanaan — dalam kayu yang menua, dalam doa-doa yang tak pernah putus, dan dalam jejak waktu yang terus berjalan. (hm21).

BERITA TERPOPULER

BERITA PILIHAN