Komunitas Alusi Au Tanamkan Filosofi Uli ni Rupa dan Uli ni Roha ke Pelajar

Dua orang pelajar yang sedang mengenakan pakaian adat Batak Toba. (Foto: Istimewa/Mistar)
Medan, MISTAR.ID
Keindahan sejati dalam budaya Batak Toba tidak hanya diukur dari penampilan luar, tetapi juga dari keluhuran hati dan karakter. Filosofi tersebut selalu digaungkan oleh Komunitas Alusi Au, terutama kepada kalangan pelajar melalui kegiatan budaya dengan tajuk ‘Uli ni Rupa, Uli ni Roha’ (kecantikan wajah/fisik, kecantikan hati).
Pendiri Alusi Au, Presley Panca Yahya Simangunsong, mengatakan bahwa uli ni rupa dan uli ni roha merupakan dua nilai yang tidak dapat dipisahkan dalam membentuk jati diri orang Batak. Keindahan fisik, menurutnya, harus berjalan seiring dengan keindahan hati.
“Kita tidak boleh memisahkan uli ni rupa dan uli ni roha. Keduanya adalah satu kesatuan yang membentuk jati diri orang Batak. Keindahan lahiriah yang tertata harus berjalan seiring dengan keindahan batiniah yang penuh kebijaksanaan dan sopan santun,” ujarnya dalam keterangan tertulis, Selasa (16/12/2025).
Dalam setiap pemaparannya ke pelajar, Presley selalu mengajak para pelajar untuk memahami bahwa keindahan sejati tidak semata-mata terlihat dari luar, melainkan tercermin dari sikap, karakter, dan kebijaksanaan dalam kehidupan sehari-hari.
Baca Juga: Menjaga Budaya Batak Sebagai Jati Diri
Alusi Au juga akan selalu membuat kolaborasi yang menguatkan, seperti sebelumnya saat menggelar kegiatan yang sama di SMK Negeri 1 Sidikalang, Presley juga menghadirkan narasumber dari Dinas Kepemudaan dan Olahraga serta praktisi tata rias adat.
Hal ini bertujuan untuk menguatkan pemahaman dan menjelaskan bahwa uli ni rupa merujuk pada keindahan fisik yang diwujudkan melalui penampilan rapi dan tata rias tradisional, sedangkan uli ni roha menggambarkan keindahan karakter, budi pekerti, dan kebijaksanaan.
Pemahaman nilai budaya tersebut kemudian akan diperdalam melalui workshop rias dan busana adat Batak Toba. Jadi siswa diperkenalkan pada ciri khas riasan tradisional, unsur estetika, serta makna simbolis yang terkandung dalam busana adat.
Seorang praktisi tata rias adat juga mengatakan bahwa setiap detail dalam riasan tradisional memiliki filosofi tersendiri. Garis dan warna yang digunakan bukan sekadar hiasan, melainkan visualisasi nilai-nilai luhur seperti keberanian, kesucian, dan kearifan lokal.
Dengan memahami maknanya, maka perias tidak hanya sekadar merias wajah, tetapi juga menghormati warisan leluhur.
“Kita berharap generasi muda jadi semakin tahu, paham, makin mengapresiasi budaya Batak Toba dan juga menumbuhkan rasa bangga terhadap identitas budaya lokal,” kata Presley lagi. (hm20)
BERITA TERPOPULER





















