9.2 C
New York
Saturday, April 20, 2024

Guru Honorer di Siantar ‘Banting Setir’ jadi Pengusaha Kerajinan Tangan yang Sukses

Pematang Siantar, MISTAR.ID

Hardiansyah (38) merupakan seorang guru honorer di salah satu sekolah swasta yang ada di Kota Pematang Siantar. Pria paruh baya yang bertempat tinggal di Jalan Seram, Kelurahan Banten, Kecamatan Siantar Barat, Kota Pematang Siantar ini Terpaksa banting setir (berubah profesi.red) dan mulai membuat kerajinan tangan pasca pandemi Covid-19 melanda.

Dari ceritanya, Hardiansyah dulunya sempat bekerja sebagai pegawai KPPN yang bertugas sebagai operator keuangan sekolah selama 12 tahun lamanya.

Pada tahun 2019, dirinya terpaksa resign dan memantapkan diri untuk mengabdi menjadi tenaga pendidik honorer di kediamannya di Pematang Siantar.

Baca juga: Guru Honor Pakpak Bharat Raih Penghargaan Perempuan Berprestasi

Dituturkan dia, pada saat pandemi Covid 19 melanda dan aktivitas masyarakat banyak dilakukan di dalam rumah, salah satunya adalah aktivitas belajar para siswa banyak dilakukan secara daring.

“Saat covid itu, aktivitas dilakukan di rumah terutama mengajar secara daring dan keuangan semakin surut. Sementara kebutuhan masih banyak lagi harus dipenuhi,” ujarnya saat ditemui Mistar.id di kediamannya, Jumat (30/6/23) sore.

Pria yang mempunyai dua anak ini akhirnya memutuskan untuk memulai bisnis usaha dengan awalnya hanya terinspirasi pembuatan lampu hias dari sosial media.

Baca juga: 75 Guru di Samosir Ikuti Pelatihan Thematic Academy Aplikasi Perkantoran dan Data Science

“Di situlah aku mulai belajar secara otodidak dari channel youtube, bagaimana cara pembuatan lampu hias tersebut,” ungkapnya.

Dengan hanya modal melihat dan belajar dari youtube, dia memberanikan diri untuk memulai usaha kerajinan tangan dengan memanfaatkan barang bekas yang bisa dijadikan penghasilan untuk kebutuhan sehari-hari.

“Dengan modal pipa bekas saya membuat lampu hias dan semua saya kerjakan dengan sendiri,” ujarnya.

Baca juga: Kisah Inspiratif, Berdirinya Syurga Kurma di Kota Medan: Berawal dari Anjuran Dokter

Untuk proses pembuatan lampu hias itu sendiri dengan menggunakan pipa bekas. Dan awalnya melakukan uji coba terlebih dahulu dengan membuat satu, dua lampu hias.

“Dalam proses pembuatan itu pun banyak juga mengalami kegagalan tapi saya tetap semangat sampai berhasil,” ungkapnya.

Setelah lampu hias yang berhasil dibuatnya memuaskan, ia pun langsung melakukan penjualan melalui sosial media.

Baca juga: Kisah Inspiratif Juliana, Si Perempuan Rimba Melawan Pernikahan Dini

“Setelah jadi beberapa lampu bekas, langsung saya jual melalui media sosial seperti facebook dan lainnya. Akhirnya ada yang tertarik dan membelinya,” ungkapnya.

Penjualan lampu hias ini sudah sampai ke daerah Bekasi dan seluruh daerah Sumatera Utara bahkan penjualan terbanyak sampai ke Aceh.

“Lampu hias saya ini paling jauh sudah sampai ke Bekasi dan penjualan paling terbanyak di wilayah Aceh,” katanya.

Baca juga: Berkat Seduhan Kopinya, Pengusaha Kopi Asal Simalungun Bisa Bertemu Banyak Kepala Negara

Lampu hias tersebut di bandrol dengan harga Rp 150 ribu per kotak dan permintaan konsumen tergantung model yang diinginkan.

“Ada yang minta dengan model yang beda, sempat bingung juga membuatnya, tapi saya iyakan saja yang penting pesanan ada,” ujarnya.

Hardiansyah mengatakan, dirinya melakukan semua ini secara mandiri. Sebab jika merekrut pekerja tidak ada yang mengontrol pekerjaan tersebut. Karena ia harus membagi waktu lagi.

Baca juga: Geluti Budidaya Lebah Sejak SD, Aam Hasanudin Mampu Produksi Ratusan Kg Madu Sebulan

“Jadi kala saya pakai pekerja, takutnya mereka asal membuat. Soalnya membuat kerajinan ini harus dikontrol. Kalau tidak bisa jadi rusak semua. Kecuali jika pemesanan banyak, saya memakai pekerja dengan di bawah bimbingan saya,” ungkapnya.

Masih menurutnya, dalam usaha kerajinan tangan ini harus mempunyai ketekunan, kesabaran dan mempunyai jiwa kreatif jika tidak kemungkinan besar akan gagal dalam usaha tersebut

“Dari awal saya membuat pertama kali melihat channel youtube dan di situ saya belajar terus dan mulai membuat berbagai kerajinan tangan lainnya,” kata dia.

Baca juga: Kasi Penkum Kejatisu Yos A Tarigan, dari Wartawan Kini Menjadi Penyambung Lidah Informasi Kejaksaan

Dirinya juga mendapat banyak pesanan untuk membuat akrilik dengan peralatan mesin yang seadanya dan di situ dia belajar dan konsumen menyukainya.

“Saya membuat semuanya ini di ruangan kamar 3 x 4 atau ruangan yang seadanya. Saya mengerjakan ini semua di kamar itulah menjadi saksi bisu,” ujarnya.

Hardiansyah mengaku pernah mendapatkan bantuan dari Bank Indonesia tetapi hanya berupa pelatihan saja, tidak ada berupa barang sama sekali.

Baca juga: Rizky Syarif, Sang Gitaris Alexa Kini Jadi Ilmuwan Fisika

“Kendala saya di tempat dan alat-alat untuk membuat kerajinan tangan tersebut. Saya sangat membutuhkan alat seperti cmc laser dan tempat untuk membuat kerajinan tersebut,” ujarnya mengakhiri. (abdi/hm21).

Related Articles

Latest Articles