PT TBS Dituding Penyebab Banjir Tapteng, Warga: Itu Isu Sesat dan Tidak Logis

Warga Kecamatan Sibabangun saat diwawancarai terkait PT TBS (foto:syaiful/mistar)
Tapteng, MISTAR.ID
Warga di Kecamatan Sibabangun, Kabupaten Tapanuli Tengah (Tapteng), membantah tudingan yang menyebutkan banjir bandang dan longsor di daerah itu salah satunya disebabkan oleh aktivitas PT Tri Bahtera Srikandi (TBS).
Mereka menilai, isu tersebut sangat menyesatkan dan tidak tepat karena tidak sesuai dengan fakta lapangan serta kondisi sebenarnya. Diduga oknum-oknum tertentu sengaja melempar opini agar PT TBS menjadi kambing hitam.
Menurut warga, PT TBS mengelola kebun masyarakat yang berada di Daerah Aliran Sungai (DAS) Aek Hutagurgur dan Aek Mardugu. Kedua sungai tersebut bermuara ke Sungai Aek Sibabangun, bukan ke Sungai Aek Garoga.
"Jika terjadi longsor, potongan kayu dari kebun PT TBS akan hanyut ke Sungai Aek Sibabangun, bukan ke Sungai Aek Garoga," ujar Timbul Napitupulu (68), warga Kecamatan Sibabangun, Sabtu (6/12/2025).
Timbul memastikan aliran sungai di sekitar kebun yang dikelola PT TBS tidak terhubung dengan Sungai Aek Sibuntuon, Sungai Aek Sibio Bio, maupun Sungai Aek Garoga, sungai yang meluap dan menghanyutkan ribuan kubik kayu.
"Sungai Aek Garoga yang berasal dari daerah Ring Kabor dan Bulu Laga di KM 28 sangat jauh di sebelah kanan Jalan Teluk Nauli dan tidak pernah melintas di sekitar wilayah kebun PT TBS," tegas Raja Anggoli ini.
Artinya, sambung Timbul, mustahil dan tidak masuk akal jika kayu-kayu tumbangan PT TBS terbang ke hulu Sungai Garoga yang berjarak 4 hingga 5 kilometer dari lokasi kebun PT TBS yang berada di KM 6 hingga KM 10.
"Perlu juga kita luruskan, PT TBS tidak pernah membuka hutan apalagi merambah hutan. Mereka membangun areal perkebunan warga," ucapnya.
Sementara itu, Khairul Efendi Pohan mengatakan pengelolaan kebun rakyat yang dilakukan PT TBS mengedepankan pelestarian lingkungan hidup yang fokus pada praktik berkelanjutan.
Ia menjelaskan, kayu-kayu yang ditumbang akan dibenam ke dalam tanah untuk mengamankan jaringan tanah (staking), sekaligus menjadi pupuk kompos organik.
Bahkan, kata Khairul, area 50 hingga 100 meter kiri dan kanan pinggiran Sungai Aek Mardugu dan Sungai Aek Hutagurgur tidak dikelola PT TBS dan dijadikan hutan konservasi guna melindungi sistem penyangga kehidupan serta keanekaragaman hayati.
"Saya paham betul dengan mekanisme pengelolaan kebun yang dilakukan PT TBS. Makanya kita luruskan agar tidak salah penafsiran," sebut Khairul, diamini Saut Parulian Aritonang (61).
Terpisah, mantan surveyor PT Teluk Nauli, Hasbin Pasaribu (45), membenarkan bahwa kebun PT TBS berada di DAS Aek Mardugu dan DAS Aek Hutagurgur, dan kedua sungai itu tidak memiliki keterkaitan dengan Sungai Aek Garoga.
Dari hasil survei yang sering dilakukan, Hasbin memastikan posisi kebun PT TBS berada pada jalur kiri Jalan Teluk Nauli, tepatnya di Desa Hutagurgur, Kecamatan Sibabangun. Jenis tanaman pada area kebun adalah pohon karet dan tanaman perkebunan lainnya.
"Yang mereka buka itu kebun rakyat, tumbuhan di dalamnya pohon karet," ujar Hasbin.
Jikapun kebun PT TBS mengalami longsor, Hasbin memprediksi material akan jatuh ke Sungai Aek Sibabangun. "Tidak ada ditemukan material kayu di DAS Aek Sibabangun yang dapat dikaitkan dengan temuan di DAS Aek Garoga. Saat banjir bandang terjadi, Sungai Aek Sibabangun hanya keruh dan debitnya sedikit meninggi," ungkapnya. (hm16)


















