Cerita Warga Hutanabolon Tapteng Terisolir, Ratusan Orang Masih Dilaporkan Hilang

Kondisi di Desa Hutanabolon, Tapteng, gereja terbenam setengah oleh lumpur begitu juga jalanan. (foto:feliks/mistar)
Tapteng, MISTAR.ID
Desa Hutanabolon, Kecamatan Tukka, Kabupaten Tapanuli Tengah (Tapteng) menjadi salah satu wilayah yang paling parah terdampak bencana banjir bandang dan longsor, khususnya di Lingkungan III dan IV.
Di kedua lokasi ini, sejak terjadinya bencana pada 25 November 2025 lalu, kondisinya hingga saat ini masih terisolasi dan semakin memprihatinkan karena kurang terekspos publik.
Memasuki hari ke-11 pasca bencana, wilayah ini masih tertutup dengan minimnya bantuan logistik, memaksa warga bertahan hidup dengan sumber daya seadanya di tengah terputusnya akses masuk.
Untuk mencapai lokasi, koresponden Mistar harus menempuh perjalanan dengan berjalan kaki sekitar 12 kilometer dari Dusun Sigotom yang berada di kecamatan yang sama. Perjalanan dilakukan melewati jalan berair dan berlumpur. Upaya membawa motor trail tidak berhasil menembus medan yang rusak parah, karena kendaraan terpuruk hanya beberapa ratus meter setelah masuk jalur lumpur.
Jalan penghubung Dusun Sigotom, Kelurahan Tukka dengan Desa Hutanabolon masih terendam banjir setinggi 70 centimeter hingga satu meter. Banjir mulai terlihat sejak memasuki Jembatan Sigotom yang menjadi akses utama menuju desa, namun semakin dalam dan sulit diakses semakin mendekati wilayah terdampak.
Sepanjang jalan, kondisi rumah warga rata-rata sudah hancur. Beberapa rumah hanyut terbawa arus banjir hingga hanya menyisakan kloset, dan sebuah gereja terlihat terbenam setengah badan oleh lumpur. Ribuan kubik kayu gelondongan dan batu-batu besar dari pegunungan masih berserakan di sepanjang jalur, menandakan dahsyatnya bencana banjir bandang dan longsor yang melanda warga.
“Semua sudah habis, Pak. Kondisi rumah warga 90 persen habis semua. Bantuan juga belum ada lagi, kami kelaparan Pak, hanya di beberapa tempat saja diberikan bantuan,” ujar Dina Tambunan, warga Lingkungan III Desa Hutanabolon, Sabtu (6/12/2025).
Ia menyampaikan bahwa lokasi paling parah berada di Lingkungan IV, di mana hampir tidak ada lagi rumah yang tersisa. Bagian atas perkampungan gunung sudah longsor dan berpindah ke badan jalan, terbawa air dan rata dengan tanah.
“Kalau banjir bandang inilah yang paling parah, Lingkungan III dan Lingkungan IV. Sementara Desa Sigiringgiring semua sudah habis, warganya sudah turun semua,” tambahnya.
Baca Juga: Pulih Bertahap, Sibolga–Tapteng Bangkit Pasca Bencana: Jalan Normal, BBM Turun, Warga Mulai Tenang
Warga lainnya, rekan Dina, mengungkapkan bahwa mertuanya meninggal akibat peristiwa banjir bandang, namun hingga kini tidak ada bantuan maupun santunan dari pemerintah.
“Mertuaku meninggal Pak, sudah kami kebumikan. Belum ada santunan, biasanya santunan itu dari pemerintah,” katanya.
Mereka juga menyebutkan masih banyak korban meninggal yang belum ditemukan hingga sekarang, diperkirakan mencapai ratusan orang, meski khusus di Lingkungan III diperkirakan hanya sekitar sepuluh orang.
“Masih ada seratusan orang yang hilang kalau di Desa Hutanabolon ini,” sebut Dina.
Ironisnya, kata Dina, Tim Search and Rescue (SAR) yang sempat melakukan pencarian korban hilang sudah berhenti beraktivitas di wilayah tersebut.
“Mereka sudah berhenti mencari jenazah yang hilang, sementara di daerah ini masih ada aroma bau-bau. Tapi mereka bekerja di sana saja. Hanya di sana mereka melakukan pencarian,” tutupnya, sambil menunjukkan bendera merah putih yang dinaikkan setengah tiang sebagai tanda duka. (hm16)
























