Perjuangan Ibu Tunggal di Deli Serdang Menguliahkan Anak ke Yaman

Rohana saat melepas anaknya berangkat ke Yaman. (foto: istimewa/mistar)

Rohana saat berdagang di depan rumahnya di Desa Selemak, Hamparan Perak. (foto: putra/mistar)
Bekerja dari Pagi hingga Tengah Malam
Untuk memenuhi kebutuhan anaknya di Yaman, Rohana bekerja tanpa mengenal waktu. Sejak pukul 06.30 WIB pagi, ia sudah berjualan mie balap hingga sekitar pukul 10.00 WIB. Setelah itu ia pergi ke pasar membeli bahan dagangan. Sore harinya, ia kembali berjualan ayam geprek, ayam kentaki, dan ayam bakar.
Malam hari, ia masih melanjutkan usaha dengan berjualan jamu di warung kecilnya yang berada tepat di depan Koramil Hamparan Perak. “Dari pagi sampai tengah malam itulah kerjaan saya,” tuturnya.
Bahkan demi membelikan perangkat belajar untuk Apin sebelum berangkat ke Yaman, Rohana sempat menggadaikan cincin nikah milik anak sulungnya. “Alhamdulillah sekarang semua utang sudah lunas, cincin anak saya juga sudah saya tebus,” katanya penuh syukur.
Kini Apin sudah sekitar sembilan bulan menjalani pendidikan di Yaman. Meski hidup hemat dengan kiriman bulanan yang jauh di bawah mahasiswa lain, ia tetap bertahan menjalani perkuliahan.
Tahun pertama, Rohana hanya mampu mengirim sekitar Rp2 juta per bulan. Kini kebutuhan diperkirakan meningkat menjadi Rp2,5 juta hingga Rp3 juta untuk biaya asrama dan kebutuhan hidup.
Namun bagi Rohana, perjuangan belum selesai. Ia masih terus bekerja demi memastikan anaknya tetap bisa belajar hingga selesai. Sementara bagi Apin, perjalanan ini menjadi bukti bahwa mimpi besar bisa lahir dari desa kecil dan keluarga sederhana.
Dari suara tilawah seorang anak kampung di Hamparan Perak, jalan panjang itu akhirnya membawanya sampai ke Yaman, negeri yang selama ini hidup dalam doa-doa seorang ibu.


















