Ini Cerita Mahasiswa Korban Banjir Sumut Penerima Bantuan Kemdiktisaintek

Mahasiswa USU, Unimed, Polmed, Stikes Mitra Husada dan Universitas Satya Terra Bhinneka yang terdampak banjir mendapatkan bantuan dari Kemdiktisaintek. (foto:susan/mistar)
Medan, MISTAR.ID
Sejumlah mahasiswa terdampak banjir di Sumatera Utara (Sumut)menerima bantuan biaya hidup korban bencana alam yang melanda Sumatera beberapa waktu terakhir. Bantuan ini disediakan oleh Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains dan Teknologi (Kemdiktisaintek).
Salah satu penerima manfaat adalah Dina Olivia, mahasiswa Stikes Mitra Husada Medan semester tiga. Ia menilai bahwa bantuan untuk mahasiswa ini sangat membantu. “Saya merasa sangat terbantu dengan adanya bantuan ini,” ucapnya kepada Mistar, Sabtu (6/12/2025).
Ia menyebutkan bahwa keluarganya di Kabupaten Tapanuli Tengah (Tapteng) juga mengalami banjir hingga selutut, dengan listrik padam, ketersediaan air bersih sulit, dan jaringan komunikasi terputus. Dina baru dapat menghubungi keluarga lima hari setelah kejadian.
Menurut Dina, arahan Wakil Mendiktisaintek untuk memberikan bantuan berupa makanan cepat saji kepada para korban bencana sangat tepat. “Kalau diberikan makanan mentah, itu akan menyulitkan. Masyarakat sudah kesulitan air bersih,” ujarnya.
Ia berharap bantuan terus disalurkan kepada masyarakat korban bencana, termasuk mahasiswa yang juga terdampak ekonomi.
“Karena jika kita masih berharap kepada orang tua dengan keadaan seperti ini, sungguh sangat sulit. Soalnya mereka juga berjuang memenuhi kebutuhannya sendiri. Apalagi untuk memenuhi kebutuhan saya, tentu sangat minim,” tuturnya dengan mimik wajah sedih.
Salah satu kisah paling menyentuh juga datang dari Nasrah Tri Amanda Hutapea, mahasiswa Kimia FMIPA Universitas Sumatera Utara (USU). Dengan suara bergetar, ia menyampaikan bahwa keluarganya di Sorkam, Tapteng, kehilangan rumah dan seluruh barang-barang mereka.
“Rumah yang kami tempati itu sudah puluhan tahun. Yang sangat saya sayangkan adalah kenangan-kenangan masa kecil saya bersama almarhum papa saya. Saat ini nggak ada lagi tersisa,” katanya terisak.
Dua kali Nasrah dapat menelpon ibunya, dan dua kali itu pula ia menemukan wajah dan mata ibunya sembab karena menangis dan trauma. Ia menambahkan, selama mengungsi, orang tuanya hanya mengandalkan makanan yang dibagi sesama warga. “Hanya Indomie dan Intermi yang mereka makan,” katanya.
Nasrah mengaku tak kuat menahan tangis saat mengetahui ibunya harus pergi ke kebun dan bukit hanya untuk mencari sinyal agar bisa memberi kabar.
“Bajunya penuh lumpur. Mama bilang, mereka mengutip papan-papan yang masih bisa digunakan untuk membuat tenda,” tutur Nasrah sembari menangis mengingat orang tuanya sedang berjuang di sana.
Ia memiliki tekad kuat untuk segera pulang dan memeluk orang tuanya di kampung. Namun, ia harus menahan diri dan fokus pada akademiknya.
“Saya nggak tahu aktivitas apa yang mereka lakukan di sana, karena kendala jaringan juga nggak bisa menghubungi mama dan keluarga saya di rumah,” ucapnya.
Sementara itu, Osama, mahasiswa Ilmu Budaya USU, yang kosnya juga terkena banjir, mengaku sangat merasakan dampaknya. “Di tempat saya, saya kan 160 centimeter (tingginya), dan itu tenggelam semua,” ujarnya. Ia bersama teman-temannya akhirnya mengungsi ke lantai dua.
Mahasiswa semester tujuh itu mengatakan belum ada bantuan masuk pada hari-hari awal, kecuali dari warga sekitar, dengan kondisi listrik padam dan air bersih sulit. “Menurut saya, dengan adanya program bantuan untuk mahasiswa ini memberikan gebrakan, terutama untuk mahasiswa dan orang-orang tua yang terdampak,” katanya.
Osama berharap bantuan pemerintah dapat tepat sasaran dan merata. “Semoga bisa benar-benar sampai ke yang membutuhkan,” ujarnya.
Sebelumnya, Wamendiktisaintek Stella Christie menjelaskan beberapa skema bantuan yang diberikan kepada korban bencana di Sumatera, salah satunya bantuan bagi mahasiswa dan dosen terdampak.
Stella menyebutkan bahwa anggaran untuk skema ini berjumlah sekitar Rp5 miliar dan masih mungkin ditingkatkan.
Mahasiswa terdampak akan menerima Rp1.250.000 per bulan selama tiga bulan, total Rp3.750.000. Sementara itu, bantuan untuk dosen yang sedang studi lanjut diberikan melalui anggaran BPI sebesar Rp4.500.000 per bulan selama dua bulan, total Rp9.000.000. (hm16)






















