Friday, June 5, 2026
home_banner_first
SUMUT

Hampir Seabad Berdiri, Kelenteng Guang Fu Gong Sergai Simpan Catatan Sejarah Dinasti Qing

Mistar.idSenin, 16 Februari 2026 22.52
AN
SD
hampir_seabad_berdiri_kelenteng_guang_fu_gong_sergai_simpan_catatan_sejarah_dinasti_qing_

Kelenteng Guang Fu Gong yang telah berdiri hampir seabad di Jalan Menang, Dusun I, Desa Pantai Cermin Kiri, Kecamatan Pantai Cermin, Kabupaten Serdang Bedagai. (Foto: Damanik/Mistar)

news_banner

Sergai, MISTAR.ID

Kelenteng Guang Fu Gong yang berlokasi di Jalan Menang, Dusun I, Desa Pantai Cermin Kiri, Kecamatan Pantai Cermin, Kabupaten Serdang Bedagai (Sergai), menyimpan catatan sejarah panjang yang tertuang dalam sebuah prasasti berbahasa Tionghoa.

Rumah ibadah yang telah berdiri hampir satu abad itu merekam perjalanan waktu sejak era kekaisaran Tiongkok hingga periode modern. Dalam prasasti tersebut tercatat masa pemerintahan sejumlah kaisar Dinasti Qing, mulai dari Kaisar Jiaqing (1796-1820), Daoguang (1821-1850), Xianfeng (1851-1861), Tongzhi (1862-1874), Guangxu (1875-1908), hingga Puyi atau Kaisar Xuantong (1909-1911).

Tak hanya itu, prasasti juga mencatat periode Republik Tiongkok (1912-1948) serta Republik Rakyat Tiongkok sejak 1949 hingga sekarang.

Anggota DPRD Serdang Bedagai Fraksi Golkar, Meryanto, mengatakan vihara Kuan Im di lokasi tersebut telah lama berdiri dan menjadi salah satu tempat ibadah bernilai sejarah bagi masyarakat, khususnya warga keturunan Tionghoa di Sergai.

Menurutnya, prasasti menjelaskan bahwa kelenteng awalnya hanya berupa bangunan kecil. Namun, berkat kepedulian para pendahulu dan umat, bangunan itu terus dipelihara, diperbaiki, direnovasi, serta diperluas dari masa ke masa hingga menjadi seperti sekarang.

"Catatan tertua dalam prasasti menyebutkan pada tahun 1900, tepatnya era Guangxu ke-26, murid-murid dari Guangdong dan Fujian melakukan renovasi serta perluasan kelenteng. Renovasi tersebut meliputi penambahan patung dewa atau Buddha, hiolo (tempat dupa), meja altar, serta berbagai perlengkapan ibadah lainnya," katanya, Senin (16/2/2026).

Setahun kemudian, lanjutnya, pada 1901, seorang donatur bermarga Lin disebut membawa lonceng dan genderang besar dari luar negeri. Saat itu, kelenteng dipimpin oleh rohaniawan bernama Shi Ming Dashi. Prasasti juga mencatat sejumlah sumbangan papan kaligrafi bertuliskan “Fa Yun Chang Yong”, “Ji Lai Shen En”, dan “Gan De Ci Bei”.

Memasuki era modern, perkembangan fisik kelenteng terus berlanjut. Renovasi pendopo depan dilakukan pada 1975, disusul perbaikan area luar serta pemasangan lampu pada 1984. Renovasi lantai dilakukan pada 1992, pembangunan Tian Gong Ting pada 1994, serta pembangunan pagoda dan pagar pada 1996.

"Pada periode 2009-2010, dilakukan perluasan sejumlah bangunan, termasuk pembangunan kuil Qing Long Bai Hu Gong, Wu Zu Miao, serta kuil Datuk Kong," ujarnya.

Di bagian akhir, prasasti memuat pesan moral agar umat dan masyarakat terus menjaga serta merawat kelenteng sebagai aset bersama. Pesan tersebut menegaskan merawat fasilitas umum merupakan tanggung jawab semua pihak, sekaligus ajakan kepada generasi penerus untuk melanjutkan jasa dan kebajikan para pendahulu. (hm25)


BERITA TERPOPULER

BERITA PILIHAN