BPJPH Dorong UMKM Sumut Perkuat Produk Halal untuk Perluas Pasar

Foto bersama Kepala BPJPH, Ahmad Haikal Hassan. (foto:Dok Inspirasi Halal Indonesia/Mistar)
Medan, MISTAR.ID (27/8/2026) — Kepala Badan Penyelenggara Jaminan Produk Halal (BPJPH), Dr. Ir. Ahmad Haikal Hassan, mengajak para pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) di Sumatera Utara untuk meningkatkan daya saing dan memperluas akses pasar lewat kepastian produk halal.
Hal ini disampaikannya dalam seminar nasional bertajuk ‘Membangun Ekosistem Halal untuk Masa Depan Indonesia’ di Medan. Kegiatan yang digelar oleh Inspirasi Halal Indonesia ini juga turut melibatkan Dinas Koperasi Kota Medan, Dinas Kesehatan Kota Medan, beserta ratusan pelaku UMKM di Kota Medan.
Ia menjelaskan bahwa saat ini, baik makanan, minuman, obat, kosmetik, hingga barang gunaan yang halal tengah menjadi tren dunia. Hal ini disebut menjadi suatu peluang besar bagi pelaku UMKM.
“Sebab sekarang ini produsen halal dunia dipegang oleh China, Brasil, Amerika, Prancis. Itu Indonesia di mana? Nomor 8,” katanya, Kamis (27/8/2026).
Dengan adanya seminar nasional, pria yang akrab disapa Babe Haikal itu berharap sosialisasi halal akan semakin luas dan menjadi kesempatan besar bagi pelaku UMKM untuk tidak hanya sekadar menjadi konsumen semata, tetapi juga menjadi produsen halal.
“Sumatera Utara ini termasuk salah satu provinsi yang besar. Tujuh besar dalam produksi halal Indonesia. Maka, ambil menjadi bagian juga untuk dunia, karena sebagai negara dengan mayoritas penduduk Muslim terbesar, kok kita nomor delapan sih? Kan kurang pas. Harusnya nomor satu, gitu ya,” tuturnya lagi.
Ia mengajak para pelaku UMKM dapat terus menumbuhkan semangat dalam pengembangan UMKM halal hingga dapat berkontribusi terhadap pertumbuhan ekonomi nasional sebesar 8 persen sesuai dengan Asta Cita yang telah dicanangkan Presiden Prabowo Subianto.
“Sumatera Utara ini punya potensi besar. Maka dari itu, harus kita dorong, lewat pendampingan juga sertifikasi halal,” ucapnya lagi.
Babe Haikal juga memaparkan bahwa Halal Value Chain yang mencakup pariwisata halal, ekspor-impor halal, produsen, dan semua terkait dengan halal telah menembus angka Rp6.400 triliun pada 2025.
Selain itu, ia mencatat lonjakan prestasi sektor pariwisata halal Indonesia yang kini berada di peringkat kedua dunia, naik dari posisi kelima pada tahun sebelumnya. Hal ini disebut berkat penekanan pada aspek kebersihan dan kesehatan (hygiene).
“Kebersihan dan kesehatan itu bagian dari halal. Bukan cuma no pork, no lard, no alcohol. Tapi prosesnya harus bersih, higienisnya terdata, no MSG-nya nggak berlebihan, dan seterusnya yang banyak kita kritisi dari cara-cara pembuatan yang tidak halal,” katanya.
Pertumbuhan ekonomi inilah yang disebut terus dikejar guna meningkatkan nilai tambah dan juga daya saing. Ia menegaskan bahwa salah satu cara untuk menghalau produk asing masuk ke Indonesia adalah dengan memperkuat produk-produk dalam negeri.
Ia juga menekankan bahwa salah satu hal yang membuat negara-negara seperti China, Amerika, Jepang, hingga Korea jauh lebih unggul dikarenakan tertib dalam sertifikasi halal.
“Kita mesti tertib halal juga dong, supaya kita bisa menang dan menjadi dipilih produknya oleh konsumen masyarakat Indonesia yang sangat sensitif kalau soal halal,” ucapnya.
Ia juga berharap pemerintah, lembaga terkait, pelaku UMKM, dan masyarakat dapat bersinergi untuk terus meningkatkan ekosistem halal yang berkelanjutan di Sumut. (hm27)























