Friday, June 5, 2026
home_banner_first
SUMUT

Bencana Beruntun di Tapanuli, Ketua PSGI Serukan Pertobatan Ekologis

Mistar.idKamis, 27 November 2025 20.38
journalist-avatar-top
PS
bencana_beruntun_di_tapanuli_ketua_psgi_serukan_pertobatan_ekologis

Ketua Pusat Studi Geopark Indonesia, Wilmar Eliezer Simanjorang. (Foto: Istimewa/mistar)

news_banner

Samosir, MISTAR.ID

Hujan deras selama lebih dari dua hari memicu banjir bandang dan longsor di Sibolga, Tapanuli Utara, Tapanuli Tengah, dan Tapanuli Selatan. Bencana yang melumpuhkan akses, menghancurkan rumah, serta menelan korban jiwa ini dinilai sebagai akibat dari kerusakan lingkungan yang terus berlangsung.

Hal tersebut disampaikan Wilmar Eliezer Simanjorang, Ketua Pusat Studi Geopark Indonesia (PS-GI), Kamis (27/11/2025).

Menurut Wilmar, bencana yang melanda Tapanuli Raya dalam beberapa hari terakhir merupakan “jeritan alam” akibat deforestasi dan pengelolaan lingkungan yang abai. Ia menegaskan bahwa kerusakan hulu sungai dan pembukaan lahan tanpa konservasi telah melemahkan fungsi alam sebagai pelindung.

Wilmar menjelaskan air bah di Sibolga membawa lumpur, batang kayu, dan puing bangunan yang merusak jaringan infrastruktur kota. Sementara di Tapanuli Utara, longsor memutus dua jembatan utama dan meruntuhkan puluhan rumah warga.

Di Tapanuli Tengah, hampir dua ribu rumah terendam banjir. Banyak desa terisolasi akibat akses tertutup lumpur. Sedangkan di Tapanuli Selatan, ribuan warga terpaksa mengungsi karena rumah hanyut dan korban luka maupun meninggal terus bertambah.

“Ini bukan lagi sekadar bencana alam. Ini tragedi sosial ketika masyarakat kehilangan rumah, ladang, harta benda, bahkan nyawa,” tuturnya.

Wilmar menilai deforestasi menjadi faktor utama yang memperparah dampak hujan ekstrem. Penebangan liar, aktivitas tambang, dan pembukaan lahan tanpa konservasi membuat lereng-lereng rapuh dan tanah tidak mampu menyerap air.

“Akar-akar pohon yang seharusnya mencengkeram tanah telah hilang. Hutan kehilangan fungsinya sebagai penyangga,” katanya.

Ia mengingatkan wilayah lain seperti Samosir, Toba, Simalungun, Humbang Hasundutan, dan Dairi sedang berada dalam ancaman serupa karena tingkat penggundulan hutan yang tinggi.

“Jika hulu tidak dipulihkan, musim hujan berikutnya dapat membawa bencana yang lebih besar,” katanya.

Wilmar menyebut bencana ini sebagai “peringatan keras terhadap peradaban yang lupa berhenti”. Menurutnya, pembangunan yang mengabaikan kelestarian lingkungan adalah kesalahan fatal yang akhirnya menjerumuskan masyarakat kecil ke dalam risiko.

Karena itu, Wilmar menyerukan apa yang ia sebut sebagai pertobatan ekologis. Pertobatan ini bukan hanya menanam pohon, melainkan perubahan cara pandang: menempatkan bumi sebagai rumah, bukan objek eksploitasi; mendengar suara penggiat lingkungan; serta mengutamakan keselamatan masyarakat di atas kepentingan ekonomi jangka pendek.

Ia menegaskan langkah mitigasi harus dilakukan segera. Beberapa langkah mendesak yang ia sarankan meliputi perlindungan hutan terutama di hulu dan lereng rawan longsor, pengetatan izin tambang dan pembukaan lahan, penguatan kesiapsiagaan bencana, serta pembangunan kesadaran ekologis sebagai moral publik.

“Alam bukan musuh. Ia adalah rumah. Jika rumah terus dirusak, rumah itu akan membalas. Dan hari ini kita sedang menyaksikan balasannya,” ucapnya.

Wilmar berpesan dengan peringatan keras tanpa perubahan, bencana di Tapanuli hari ini akan menjadi warisan kelam bagi generasi berikutnya.

BERITA TERPOPULER

BERITA PILIHAN